an online Instagram web viewer

#aanavis medias

Photos

Dalam masyarakat Indonesia, Navis tersohor sebagai pencemooh nomor wahid. Dalam sebagian besar cerpennya, ciri itu amat menonjol. Tak terkecuali dalam kumpulan cerpen ini.
Kumpulan cerpen Kabut Negeri si Dali ini memuat 15 cerpen yang ditulis tahun 1990-1999. Tema umum yang disajikan dalam kumpulan ini adalah potret dari ekses dan latar belakang sejarah politik dan perang mulai dari zaman pendudukan Jepang hingga zaman Orde Baru.
Dengan gayanya yang kocak, karikatural, dan menggelitik, Navis membawa kita pada pengalaman-pengalaman kita sebagai bangsa pada masa lalu. Dengan demikian, kumpulan cerpen ini dapat memperkaya batin kita. Selain itu, kumpulan ini juga menambah wawasan kita mengenai masa silam.
.
Judul : Kabut Negeri Si Dali
.
Penulus : A. A. Navis
.
Penerbit Grasindo
.
Harga : 65.000
.
Pemesanan & Tanya Buku melalui :
• Direct Message Instagram (DM)
• WA/Line/SMS : 081225515618
• BBM : D7E7DA0B
💯% ORIGINAL books
*
*
*
SerbaSastra Bookstore
.
.
.
#serbasastra #sastra #sastraindonesia #jualbuku #kumpulancerpen #cerpen #kabutnegerisidali #aanavis
Dalam masyarakat Indonesia, Navis tersohor sebagai pencemooh nomor wahid. Dalam sebagian besar cerpennya, ciri itu amat menonjol. Tak terkecuali dalam kumpulan cerpen ini. Kumpulan cerpen Kabut Negeri si Dali ini memuat 15 cerpen yang ditulis tahun 1990-1999. Tema umum yang disajikan dalam kumpulan ini adalah potret dari ekses dan latar belakang sejarah politik dan perang mulai dari zaman pendudukan Jepang hingga zaman Orde Baru. Dengan gayanya yang kocak, karikatural, dan menggelitik, Navis membawa kita pada pengalaman-pengalaman kita sebagai bangsa pada masa lalu. Dengan demikian, kumpulan cerpen ini dapat memperkaya batin kita. Selain itu, kumpulan ini juga menambah wawasan kita mengenai masa silam. . Judul : Kabut Negeri Si Dali . Penulus : A. A. Navis . Penerbit Grasindo . Harga : 65.000 . Pemesanan & Tanya Buku melalui : • Direct Message Instagram (DM) • WA/Line/SMS : 081225515618 • BBM : D7E7DA0B 💯% ORIGINAL books * * * SerbaSastra Bookstore . . . #serbasastra  #sastra  #sastraindonesia  #jualbuku  #kumpulancerpen  #cerpen  #kabutnegerisidali  #aanavis 
Kemarau panjang melanda sebuah kampung. Tanah jadi retak dan sawah pun jadi kering kerontang. Orang kampung pun merasa gelisah.

Sebetulnya, ada sebuah danau dekat kampung itu. Namun, orang kampung ternyata lebih suka pergi ke dukun. "Dan setelah tak juga keramat dukun itu memberi hasil, barulah mereka ingat pada Tuhan. Mereka pergilah setiap malam ke masjid mengadakan ratib, mengadakan sembahyang kaul meminta hujan. Tapi hujan tak kunjung turun juga." Hanya Sutan Duano yang berbuat lain. " Pada ketika bendar - bendar tak mengalirkan air lagi, sawah - sawah sudah mulai kering dan matahari masih terus bersinar dengan maraknya tanpa gangguan awan sebondong pun, diambilnya sekerat bambu. Lalu disandangnya di kedua ujung bambu itu. Diambilnya air danau dan ditumpahkannya ke sawahnya."
.
Judul : Kemarau
.
Penulis : A. A. Navis
.
Penerbit Grasindo
.
Harga : 65.000
.
Pemesanan & Tanya Buku melalui :
• Direct Message Instagram (DM)
• WA/Line/SMS : 081225515618
• BBM : D7E7DA0B
💯% ORIGINAL books
*
*
*
SerbaSastra Bookstore
.
.
.
#serbasastra #sastra #sastraindonesia #jualbuku #jualnovel #novelindonesia #kemarau #aanavis
Kemarau panjang melanda sebuah kampung. Tanah jadi retak dan sawah pun jadi kering kerontang. Orang kampung pun merasa gelisah. Sebetulnya, ada sebuah danau dekat kampung itu. Namun, orang kampung ternyata lebih suka pergi ke dukun. "Dan setelah tak juga keramat dukun itu memberi hasil, barulah mereka ingat pada Tuhan. Mereka pergilah setiap malam ke masjid mengadakan ratib, mengadakan sembahyang kaul meminta hujan. Tapi hujan tak kunjung turun juga." Hanya Sutan Duano yang berbuat lain. " Pada ketika bendar - bendar tak mengalirkan air lagi, sawah - sawah sudah mulai kering dan matahari masih terus bersinar dengan maraknya tanpa gangguan awan sebondong pun, diambilnya sekerat bambu. Lalu disandangnya di kedua ujung bambu itu. Diambilnya air danau dan ditumpahkannya ke sawahnya." . Judul : Kemarau . Penulis : A. A. Navis . Penerbit Grasindo . Harga : 65.000 . Pemesanan & Tanya Buku melalui : • Direct Message Instagram (DM) • WA/Line/SMS : 081225515618 • BBM : D7E7DA0B 💯% ORIGINAL books * * * SerbaSastra Bookstore . . . #serbasastra  #sastra  #sastraindonesia  #jualbuku  #jualnovel  #novelindonesia  #kemarau  #aanavis 
Harga Rp 52.000

Info pemesanan dan Diskon
Wa 087719947719

#aanavis #bukuindonesia #pengalamanhidup #studyoflife #readystock #gemarbaca #kabutnegerisidali #bookstgram #pecintabukujogja
Harga Rp 55.000

Info pemesanan dan Diskon
Wa 087719947719

#aanavis #bukuindonesia #pengalamanhidup #studyoflife #readystock #gemarbaca #jodoh ##bookstgram #indobuku #pecintabukujogja
Harga Rp 59.000

Info pemesanan dan Diskon
Wa 087719947719

#aanavis #bukuindonesia #pengalamanhidup #studyoflife #readystock #gemarbaca #novel #bookstgram #pecintabukujogja
Rp59000 (230gr)

WA : 081287344660

#kemarau 
#aanavis
Rp52000
berat 200gr

WA : 081287344660

#kabutnegerisidali 
#aanavis
Rp55000
Berat 200gr

WA : 081287344660

#jodoh 
#aanavis
60.000 saja gan
Monggo

Berat : 250 gram

Kemarau 
By A. A. Navis

Cod Jogja
Wa 085600373407/Fb Zakiya ar-Rahma
#GandrungBuku #bukujogja #AkuBukudanIngatan #BukuAANavis #BukuANavis #AANavis #bukuKemarau #Kemarau
55.000 saja gan
Monggo

Berat : 250 gram

Kabut negeri si dali

By A. A. Navis

Cod Jogja
Wa 085600373407/Fb zakiya Ar-Rahma
#GandrungBuku #bukujogja #AkuBukudanIngatan #BukuANavis #BukuAANavis #ANavis #AANavis #BukuKabutNegeriSiDali #KabutNegeriSiDali #NovelKabutNegeriSiDali
60.000 saja gan
Monggo

Berat : 250 gram

Jodoh

By A. A. Navis

Cod Jogja
Wa 085600373407/fb Zakiya Ar-Rahma
#GandrungBuku #bukujogja #AkuBukudanIngatan #bukuJodoh #Jodoh #BukuANavis #BukuNavis #BukuAANavis #AANavis
MATA YANG INDAH. Cerpen Pilihan Kompas 2001. Budi Darma, Jujur Prananto, Yanusa Nugroho, Martin Aleida, Umar Kayam. Penerbit Kompas, 2001. Rp55.000,-. Kondisi: bagus. Hal.: 222. Ukuran: 13,5 x 21 cm.
.

Daftar isi terlampir.
.

#lawangbuku #bukulawasbandung #buku #books #bookstagram #bookstagramindonesia #matayangindah #cerpenpilihankompas2001 #cerpenpilihankompas #cerpen #kumcer #kompas #budidarma #yanusanugroho #gustfsakai #ratnaindraswariibrahim #coksawitri #aanavis #harriseffendithahar #herlinosoleman #indratrenggono #kusman #martinaleida #sorisiregar #wilsonnadeak #vevenspwardhana
MATA YANG INDAH. Cerpen Pilihan Kompas 2001. Budi Darma, Jujur Prananto, Yanusa Nugroho, Martin Aleida, Umar Kayam. Penerbit Kompas, 2001. Rp55.000,-. Kondisi: bagus. Hal.: 222. Ukuran: 13,5 x 21 cm. . Daftar isi terlampir. . #lawangbuku  #bukulawasbandung  #buku  #books  #bookstagram  #bookstagramindonesia  #matayangindah  #cerpenpilihankompas2001  #cerpenpilihankompas  #cerpen  #kumcer  #kompas  #budidarma  #yanusanugroho  #gustfsakai  #ratnaindraswariibrahim  #coksawitri  #aanavis  #harriseffendithahar  #herlinosoleman  #indratrenggono  #kusman  #martinaleida  #sorisiregar  #wilsonnadeak  #vevenspwardhana 
"Bahwa akhirnya, kita menjadi gila kuasa." "Perang mungkin sudah selesai, tapi permusuhan akan terus berlangsung." -A.A.Navis
Robohnya Surau Kami .
.
rm20
.
wa 01116901962
.
.
#rakbukuedel #robohnyasuraukami #bukubagus #aanavis #
SURAT DAN KENANGAN HAJI. A. A. Navis. PT Gramedia Pustaka Utama, 1996. Rp55.000,-. Kondisi: bagus. Hal.: 163. Ukuran: 14 x 20,5 cm.
.

#lawangbuku #bukulawasbandung #buku #books #bookstagram #bookstagramindonesia #suratdankenanganhaji #aanavis #haji #sastra #indonesia
GERHANA. A. A. Navis. Novel. Penerbit Kompas, c1, 2004. Rp55.000,-. Kondisi: bagus. Hal.: 304. Ukuran: 13,5 x 21 cm.
.

#lawangbuku #bukulawasbandung #buku #books #bookstagram #bookstagramindonesia #gerhana #aanavis #sastra #novel #indonesia
HUJAN PANAS DAN KABUT MUSIM. Kumpulan cerpen. A. A. Navis. Penerbit Djambatan, 1990.  Rp55.000,-. Kondisi: bagus. Hal.: 182. Ukuran: 12 x 18 cm.
.

#lawangbuku #bukulawasbandung #buku #books #bookstagram #bookstagramindonesia #hujanpanasdankabutmusim #cerpen #aanavis #sastra #indonesia
Robohnya Surau Kami

Kutipan cerpen yang ditulis oleh A.A. Navis, sasterawan besar yang telah melahirkan karya-karya monumental dalam sejarah sastra Indonesia. Pemikirannya yang kritis dapat dijadikan sebuah otokritik bagi setiap pemeluk agama di Indonesia dan mana pun juga.

Silakan bercermin pada cerpen-cerpen yang ada dalam kumpulan ini. Lalu putuskan, apakah kita akan menarik hikmah dan manfaat atau bersikap “buruk rupa, cermin dibelah”

#sayajualbuku #kedaibuku #kedaibukuonline #bacabuku #bukumurah #sayajual #buku #sayasukabacabuku #sayasukabaca #bukumurahmalaysia #ulatbuku #ulatbukumalaysia #kedaibukumurah #kedaibukumalaysia #MalaysiaBookStore #BookshopMalaysia #LubukBukuMalaysia #lubukbukumy #Sabahan #Sarawakian #RobohnyaSurauKami #AANavis #NovelIndonesiaDiMalaysia #BukuIndonesiaDiMalaysia
Robohnya Surau Kami Kutipan cerpen yang ditulis oleh A.A. Navis, sasterawan besar yang telah melahirkan karya-karya monumental dalam sejarah sastra Indonesia. Pemikirannya yang kritis dapat dijadikan sebuah otokritik bagi setiap pemeluk agama di Indonesia dan mana pun juga. Silakan bercermin pada cerpen-cerpen yang ada dalam kumpulan ini. Lalu putuskan, apakah kita akan menarik hikmah dan manfaat atau bersikap “buruk rupa, cermin dibelah” #sayajualbuku  #kedaibuku  #kedaibukuonline  #bacabuku  #bukumurah  #sayajual  #buku  #sayasukabacabuku  #sayasukabaca  #bukumurahmalaysia  #ulatbuku  #ulatbukumalaysia  #kedaibukumurah  #kedaibukumalaysia  #MalaysiaBookStore  #BookshopMalaysia  #LubukBukuMalaysia  #lubukbukumy  #Sabahan  #Sarawakian  #RobohnyaSurauKami  #AANavis  #NovelIndonesiaDiMalaysia  #BukuIndonesiaDiMalaysia 
Judul buku: Jodoh
Penulis: A.A. Navis
Penerbit: grasindo
Kondisi: baru, segel
Harga: 55.000
#aanavis
#jodoh
#buku
#bukuori
#bukuberkualitas
#sastra
#bukubagus
[OPEN SUBMISSION ANDALAS FILM FESTIVAL 2018]
"BERTANYA KERBAU PADA PEDATI"
Alam kerap diposisikan sebagai suatu elemen yang berdampingan secara harmonis dengan manusia. Kebudayaan pun terbentuk karena sifat alam tempat dipijaknya. Jika kemudian alam berubah, secara alami atau atas tangan manusia, kebudayaan pun mengikuti. Lalu benarkah permasalahan timbul ketika kebudayaan dianggap sebagai yang statis/artefak, seolah dicabut dari karakter alamiahnya, oleh alam pikiran yang terinspirasi dari masa keemasan sebuah kondisi alam atau karena alam pikiran yang kini mulai tercerabut dari akarnya alhasil globalisasi ide?
	A.A.Navis dalam cerpennya Bertanya Kerbau Pada Pedati mencoba menjawab pertanyaan itu dengan sebuah simulasi, kerbau dan pedati: bahwa sesuatu yang ada di depan mata adalah hal yang seharusnya terus dipertanyakan. Ketika hal itu dipertanyakan maka tidak adalah sesuatu yang kekal dan terus diagungkan.
	Maka sinema yang berperan sebagai mata atau sebagai pedati tak terlepas dari praktik tanya-jawab, sebab-akibat, tesis-antitesis. Ia dengan sendirinya membentuk alam yang bergerak terus menerus, yang bergelut dalam dunia tanya dan jawab.

More Info:
@andalasfilmfestival 
#filmfestival #affest2018 #aanavis #fibua #andalasfilmfestival #padang
[OPEN SUBMISSION ANDALAS FILM FESTIVAL 2018] "BERTANYA KERBAU PADA PEDATI" Alam kerap diposisikan sebagai suatu elemen yang berdampingan secara harmonis dengan manusia. Kebudayaan pun terbentuk karena sifat alam tempat dipijaknya. Jika kemudian alam berubah, secara alami atau atas tangan manusia, kebudayaan pun mengikuti. Lalu benarkah permasalahan timbul ketika kebudayaan dianggap sebagai yang statis/artefak, seolah dicabut dari karakter alamiahnya, oleh alam pikiran yang terinspirasi dari masa keemasan sebuah kondisi alam atau karena alam pikiran yang kini mulai tercerabut dari akarnya alhasil globalisasi ide? A.A.Navis dalam cerpennya Bertanya Kerbau Pada Pedati mencoba menjawab pertanyaan itu dengan sebuah simulasi, kerbau dan pedati: bahwa sesuatu yang ada di depan mata adalah hal yang seharusnya terus dipertanyakan. Ketika hal itu dipertanyakan maka tidak adalah sesuatu yang kekal dan terus diagungkan. Maka sinema yang berperan sebagai mata atau sebagai pedati tak terlepas dari praktik tanya-jawab, sebab-akibat, tesis-antitesis. Ia dengan sendirinya membentuk alam yang bergerak terus menerus, yang bergelut dalam dunia tanya dan jawab. More Info: @andalasfilmfestival #filmfestival  #affest2018  #aanavis  #fibua  #andalasfilmfestival  #padang 
Robohnya Surau Kami

Dalam cerpen "Robohnya Surau Kami", berdialoglah Tuhan dengan Haji Saleh, seorang warga negara Indonesia yang selama hidupnya hanya beribadah dan beribadah... Cerpen ini ditulis oleh A.A. Navis, sastrawan besar yang telah melahirkan karya-karya monumental dalam sejarah sastra indonesia.

Pemikirannya yang kritis dapat dijadikan sebuah otokritik bagi setiap pemeluk agama di indonesia dan manapun juga.
Silahkan bercermin pada cerpen-cerpen yang ada dalam kumpulan ini.

Lalu putuskan, apakah kita akan menarik hikmah dan manfaat atau bersikap "buruk rupa, cermin dibelah". #aanavis #robohnyasuraukami #nasionalbestseller #fiksi #kumpulancerpen
Robohnya Surau Kami Dalam cerpen "Robohnya Surau Kami", berdialoglah Tuhan dengan Haji Saleh, seorang warga negara Indonesia yang selama hidupnya hanya beribadah dan beribadah... Cerpen ini ditulis oleh A.A. Navis, sastrawan besar yang telah melahirkan karya-karya monumental dalam sejarah sastra indonesia. Pemikirannya yang kritis dapat dijadikan sebuah otokritik bagi setiap pemeluk agama di indonesia dan manapun juga. Silahkan bercermin pada cerpen-cerpen yang ada dalam kumpulan ini. Lalu putuskan, apakah kita akan menarik hikmah dan manfaat atau bersikap "buruk rupa, cermin dibelah". #aanavis  #robohnyasuraukami  #nasionalbestseller  #fiksi  #kumpulancerpen 
Robohnya Surau Kami

Kutipan cerpen yang ditulis oleh A.A. Navis, sasterawan besar yang telah melahirkan karya-karya monumental dalam sejarah sastra Indonesia. Pemikirannya yang kritis dapat dijadikan sebuah otokritik bagi setiap pemeluk agama di Indonesia dan mana pun juga.

Silakan bercermin pada cerpen-cerpen yang ada dalam kumpulan ini. Lalu putuskan, apakah kita akan menarik hikmah dan manfaat atau bersikap “buruk rupa, cermin dibelah”

#sayajualbuku #kedaibuku #kedaibukuonline #bacabuku #bukumurah #sayajual #buku #sayasukabacabuku #sayasukabaca #bukumurahmalaysia #ulatbuku #ulatbukumalaysia #kedaibukumurah #kedaibukumalaysia #MalaysiaBookStore #BookshopMalaysia #LubukBukuMalaysia #lubukbukumy #Sabahan #Sarawakian #RobohnyaSurauKami #AANavis #NovelIndonesiaDiMalaysia #BukuIndonesiaDiMalaysia
Robohnya Surau Kami Kutipan cerpen yang ditulis oleh A.A. Navis, sasterawan besar yang telah melahirkan karya-karya monumental dalam sejarah sastra Indonesia. Pemikirannya yang kritis dapat dijadikan sebuah otokritik bagi setiap pemeluk agama di Indonesia dan mana pun juga. Silakan bercermin pada cerpen-cerpen yang ada dalam kumpulan ini. Lalu putuskan, apakah kita akan menarik hikmah dan manfaat atau bersikap “buruk rupa, cermin dibelah” #sayajualbuku  #kedaibuku  #kedaibukuonline  #bacabuku  #bukumurah  #sayajual  #buku  #sayasukabacabuku  #sayasukabaca  #bukumurahmalaysia  #ulatbuku  #ulatbukumalaysia  #kedaibukumurah  #kedaibukumalaysia  #MalaysiaBookStore  #BookshopMalaysia  #LubukBukuMalaysia  #lubukbukumy  #Sabahan  #Sarawakian  #RobohnyaSurauKami  #AANavis  #NovelIndonesiaDiMalaysia  #BukuIndonesiaDiMalaysia 
"Kemenangan diperoleh dengan kebajikan. Kebajikan diperoleh dengan berpikir secara mendalam dan benar. Pikiran yang benar adalah dengan menyimpan sebaik-baik rahasia." Sayyidina Ali RA.
.
. .
#sastraindonesia #literature #landcape #beach #explorejogja #visitgunungkidul #scenery #blue #lfl #aanavis #robohnyasuraukami #gurubahasa #islamicquote #ngaji #islam #kajianislam #wonderfulindonesia #pictureoftheday #islamituindah #islambukanteroris #islamic #ngajicinta
"Kemenangan diperoleh dengan kebajikan. Kebajikan diperoleh dengan berpikir secara mendalam dan benar. Pikiran yang benar adalah dengan menyimpan sebaik-baik rahasia." Sayyidina Ali RA. . . . #sastraindonesia  #literature  #landcape  #beach  #explorejogja  #visitgunungkidul  #scenery  #blue  #lfl  #aanavis  #robohnyasuraukami  #gurubahasa  #islamicquote  #ngaji  #islam  #kajianislam  #wonderfulindonesia  #pictureoftheday  #islamituindah  #islambukanteroris  #islamic  #ngajicinta 
Judul buku: A.A Navis Karya dan Dunianya
Penulis: Ivan Adilla
Penerbit: Grasindo
Kondisi: baru, segel
Harga: 50.000
#aanavis
Judul buku: A.A Navis Karya dan Dunianya Penulis: Ivan Adilla Penerbit: Grasindo Kondisi: baru, segel Harga: 50.000 #aanavis 
Dua Tengkorak Kepala (Cerpen Pilihan KOMPAS 2000) 
Motinggo Busye
Penerbit Buku Kompas 2000
IDR :65.000

Berisi 16 cerpen pilihan yang terbit di harian Kompas pada tahun 2000.
Dua Tengkorak Kepala karya Motinggo Busye, cerpen terbaik
Anjing! karya Herlino Soleman
Santan Durian karya Hamsad Rangkuti
Lebaran ini, Saya Harus Pulang karya Umar Kayam
Usaha Beras Jrangking karya Prasetyo Hadi
Darmon karya Harris Effendi Thahar
Salma yang Terkasih karya Ratna Indraswari Ibrahim
Mawar, Mawar karya Yanusa Nugroho
Metropolitan Sakai karya Abel Tasman
Seusai Revolusi karya Jujur Prananto
Telepon Dari Aceh karya Seno Gumira Aji Darma
Bulan Angka 11 karya Arie MP Tamba
Wanita yang Ditelan Malam karya Bre Redana
Ruang Belakan karya Nenden Lilis A
Dua Orang Sahabat karya AA Navis
Laba-laba karya Gus tf Sakai
(goodreads)

#jualnovel #novelmurah #novelbagus #jualnovelfiksi #baca #buku #novel #bukusejarah #bukulangka #bukulawas #bukubekas #jualbuku #jualbukusejarah #jualbukulangka #bukujadul #tokobukuonline #bukusastara #jualbukusastra #jualbukubekas #bukusecond #bukupreloved #novelbekas #novelsecond #jualbukulangka #bacabuku #motinggobusye #senogumiraajidarma #aanavis #umarkayam
Dua Tengkorak Kepala (Cerpen Pilihan KOMPAS 2000) Motinggo Busye Penerbit Buku Kompas 2000 IDR :65.000 Berisi 16 cerpen pilihan yang terbit di harian Kompas pada tahun 2000. Dua Tengkorak Kepala karya Motinggo Busye, cerpen terbaik Anjing! karya Herlino Soleman Santan Durian karya Hamsad Rangkuti Lebaran ini, Saya Harus Pulang karya Umar Kayam Usaha Beras Jrangking karya Prasetyo Hadi Darmon karya Harris Effendi Thahar Salma yang Terkasih karya Ratna Indraswari Ibrahim Mawar, Mawar karya Yanusa Nugroho Metropolitan Sakai karya Abel Tasman Seusai Revolusi karya Jujur Prananto Telepon Dari Aceh karya Seno Gumira Aji Darma Bulan Angka 11 karya Arie MP Tamba Wanita yang Ditelan Malam karya Bre Redana Ruang Belakan karya Nenden Lilis A Dua Orang Sahabat karya AA Navis Laba-laba karya Gus tf Sakai (goodreads) #jualnovel  #novelmurah  #novelbagus  #jualnovelfiksi  #baca  #buku  #novel  #bukusejarah  #bukulangka  #bukulawas  #bukubekas  #jualbuku  #jualbukusejarah  #jualbukulangka  #bukujadul  #tokobukuonline  #bukusastara  #jualbukusastra  #jualbukubekas  #bukusecond  #bukupreloved  #novelbekas  #novelsecond  #jualbukulangka  #bacabuku  #motinggobusye  #senogumiraajidarma  #aanavis  #umarkayam 
Apa yg jd sebab seorang penjaga surau (takmir) ini berani sekali memotong lehernya hingga ia mati tak berdaya?!
Apa karena Ajo Sidi yg menceritakan tentang ahli agama yg masuk neraka??
Lalu siapa Ajo Sidi?? Kisah ini diangkat dan diadaptasi dari cerpen yg berjudul sama, Robohnya Surau Kami. Cerpen ini pertama kali terbit pada tahun 1956. Buku ini berisi 9 judul cerpen lainnya :  Anak Kebanggaan, Nasihat-nasihat, Topi Helm, Datangnya dan Perginya, Pada Pembotakan Terakhir, Angin dari Gunung, Menanti Kelahiran, Penolong, dan Dari Masa ke Masa.
Di dalam setiap cerpennya di buku ini, A.A. Navis menampilkan wajah Indonesia di zamannya dengan penuh kegetiran. Penuh dengan kata-kata satir dan cemoohan akan kekolotan pemikiran manusia Indonesia saat itu – yang masih relevan pada masa sekarang ini. Dan bagi teman-teman yg msh ingin tahu mengenai karya klasik dari penulis indonesia ini bisa bergabung dlm kelab baca kali ini. Sekaligus penutup rangkaian kelas ramadhan yg diselenggarakan oleh kelab matakaki. Kelab ini akan kembali dibuka setelah libur lebaran, sekaligus kami ingin mengucapkan ;
Selamat Hari Raya Idul Fitri
Mohon Maaf Lahir & Batin.
Selamat mudik bagi teman-teman yg mudik, tetap hati-hati dijalan. Semoga selamat sampai tujuan.

13 Juni 2018
15.00 s.d selesai
Taman Baca Binar
Jl. SMPN 1 Cipanas, Tugaran
.
.
@terminal_teater 
@tamanbacabinar 
@maudibuanap 
#ngabubuREAD
#bacanaskah
#robohnyasuraukami
#aanavis
Apa yg jd sebab seorang penjaga surau (takmir) ini berani sekali memotong lehernya hingga ia mati tak berdaya?! Apa karena Ajo Sidi yg menceritakan tentang ahli agama yg masuk neraka?? Lalu siapa Ajo Sidi?? Kisah ini diangkat dan diadaptasi dari cerpen yg berjudul sama, Robohnya Surau Kami. Cerpen ini pertama kali terbit pada tahun 1956. Buku ini berisi 9 judul cerpen lainnya : Anak Kebanggaan, Nasihat-nasihat, Topi Helm, Datangnya dan Perginya, Pada Pembotakan Terakhir, Angin dari Gunung, Menanti Kelahiran, Penolong, dan Dari Masa ke Masa. Di dalam setiap cerpennya di buku ini, A.A. Navis menampilkan wajah Indonesia di zamannya dengan penuh kegetiran. Penuh dengan kata-kata satir dan cemoohan akan kekolotan pemikiran manusia Indonesia saat itu – yang masih relevan pada masa sekarang ini. Dan bagi teman-teman yg msh ingin tahu mengenai karya klasik dari penulis indonesia ini bisa bergabung dlm kelab baca kali ini. Sekaligus penutup rangkaian kelas ramadhan yg diselenggarakan oleh kelab matakaki. Kelab ini akan kembali dibuka setelah libur lebaran, sekaligus kami ingin mengucapkan ; Selamat Hari Raya Idul Fitri Mohon Maaf Lahir & Batin. Selamat mudik bagi teman-teman yg mudik, tetap hati-hati dijalan. Semoga selamat sampai tujuan. 13 Juni 2018 15.00 s.d selesai Taman Baca Binar Jl. SMPN 1 Cipanas, Tugaran . . @terminal_teater @tamanbacabinar @maudibuanap #ngabubuREAD  #bacanaskah  #robohnyasuraukami  #aanavis 
#bacabukudiutara edisi ke 4  dengan melanjutkan baca estafet "Robohnya surau kami" karya A.A.Navis yang bertempat di @ciber_cibogo 
Gak terasa ya udah mau edisi ke lima lagi.. 😁😊😎 #BBDU
#bacabukudiutara
#BBdUedisi4 #robohnyasuraukami #aanavis #cibogo #perpustakanpantura
Cerpen Pilihan Kompas 2001, Mata yang Indah, Jakarta, Kompas, 65.000
.
.
"Dalam meneteskan diri menjadi secuil kehidupan, sebelas dari enam belas cerpen yang dipilih untuk dimuat dalam kumpulan ini, sadar atau tidak, sedikit banyak berbicara tentang kekerasan..." (Alois A. Nugroho)
.
.
#cerpenpilihankompas2001 #cerpenkompas #matayangindah #bukusastra #jualbukusastra #kedaijbs #agus #agusnoor #edisikolektor #aanavis #budidarma #martinaleida #umarkayam
Ngabuburead bersama Perpustakaan Utara @pembacapantura 
#BBdUedisi4 #aanavis #rubuhnyasuraukami #cerpen #pembacapantura
#ciber 
#berhijiberkabeh
Pembacapantura mengundang kamu semua untuk baca buku bersama!
Kali ini kita akan melanjutkan membaca kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis “Robohnya Surau Kami” (1956) bersama teman2 dari Cibogo Institute.
Sore ini, kamis, 7 juni 2018.
Tempat di Jebor Tunggal Asih, Dusun Cibogo, Burujul Kulon, Jatiwangi.
Mulai jam 3 sore ya, mari datang!
Hayu sih.... #BBdUedisi4 #aanavis #rubuhnyasuraukami #cerpen #pembacapantura #infojtw #Repost @infojtw with @insta.saver.repost • •
Pembacapantura mengundang kamu semua untuk baca buku bersama! Kali ini kita akan melanjutkan membaca kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis “Robohnya Surau Kami” (1956) bersama teman2 dari Cibogo Institute. Sore ini, kamis, 7 juni 2018. Tempat di Jebor Tunggal Asih, Dusun Cibogo, Burujul Kulon, Jatiwangi. Mulai jam 3 sore ya, mari datang! Hayu sih.... #BBdUedisi4  #aanavis  #rubuhnyasuraukami  #cerpen  #pembacapantura  #infojtw  #Repost  @infojtw with @insta.saver.repost • •
Dari @pembacapantura wit lop.
Mengundang kamu semua untuk baca buku bersama!
Kali ini kita akan melanjutkan membaca kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis “Robohnya Surau Kami” (1956) bersama teman2 dari Cibogo Institute.
Kamis, 7 juni 2018.
Tempat di Jebor Tunggal Asih, Dusun Cibogo, Burujul Kulon, Jatiwangi.
Mulai jam 3 sore ya, mari datang!

#BBdU#BBdUedisi4 #aanavis #rubuhnyasuraukami #cerpen #pembacapantura
Dari @pembacapantura wit lop. Mengundang kamu semua untuk baca buku bersama! Kali ini kita akan melanjutkan membaca kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis “Robohnya Surau Kami” (1956) bersama teman2 dari Cibogo Institute. Kamis, 7 juni 2018. Tempat di Jebor Tunggal Asih, Dusun Cibogo, Burujul Kulon, Jatiwangi. Mulai jam 3 sore ya, mari datang! #BBdU #BBdUedisi4  #aanavis  #rubuhnyasuraukami  #cerpen  #pembacapantura 
Perpustakaan Utara @pembacapantura mengundang kamu semua untuk baca buku bersama!
Kali ini kita akan melanjutkan membaca kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis “Robohnya Surau Kami” (1956) bersama teman2 dari Cibogo Institute.
Kamis, 7 juni 2018.
Tempat di Jebor Tunggal Asih, Dusun Cibogo, Burujul Kulon, Jatiwangi.
Mulai jam 3 sore ya, mari datang!

#BBdUedisi4 #aanavis #rubuhnyasuraukami #cerpen #pembacapantura
Perpustakaan Utara @pembacapantura mengundang kamu semua untuk baca buku bersama! Kali ini kita akan melanjutkan membaca kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis “Robohnya Surau Kami” (1956) bersama teman2 dari Cibogo Institute. Kamis, 7 juni 2018. Tempat di Jebor Tunggal Asih, Dusun Cibogo, Burujul Kulon, Jatiwangi. Mulai jam 3 sore ya, mari datang! #BBdUedisi4  #aanavis  #rubuhnyasuraukami  #cerpen  #pembacapantura 
Siap untuk #BBdU edisi selanjutnya??
Perpustakaan Utara @pembacapantura mengundang kamu semua untuk baca buku bersama!
Kali ini kita akan melanjutkan membaca kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis “Robohnya Surau Kami” (1956) bersama teman2 dari Cibogo Institute.
Kamis, 7 juni 2018.
Tempat di Jebor Tunggal Asih, Dusun Cibogo, Burujul Kulon, Jatiwangi.
Mulai jam 3 sore ya, mari datang!

#BBdUedisi4 #aanavis #rubuhnyasuraukami #cerpen #pembacapantura
Siap untuk #BBdU  edisi selanjutnya?? Perpustakaan Utara @pembacapantura mengundang kamu semua untuk baca buku bersama! Kali ini kita akan melanjutkan membaca kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis “Robohnya Surau Kami” (1956) bersama teman2 dari Cibogo Institute. Kamis, 7 juni 2018. Tempat di Jebor Tunggal Asih, Dusun Cibogo, Burujul Kulon, Jatiwangi. Mulai jam 3 sore ya, mari datang! #BBdUedisi4  #aanavis  #rubuhnyasuraukami  #cerpen  #pembacapantura 
#EventMJLK | Perpustakaan Utara @pembacapantura mengundang kamu semua untuk baca buku bersama!
Kali ini kita akan melanjutkan membaca kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis “Robohnya Surau Kami” (1956) bersama teman2 dari Cibogo Institute

Kamis, 7 juni 2018.
Tempat di Jebor Tunggal Asih, Dusun Cibogo, Burujul Kulon, Jatiwangi.
Mulai jam 3 sore ya, mari datang!

#BBdUedisi4 #aanavis #rubuhnyasuraukami #cerpen #pembacapantura #infomjlk #Jatiwangi #majalengka #mjlk #komunitas
#EventMJLK  | Perpustakaan Utara @pembacapantura mengundang kamu semua untuk baca buku bersama! Kali ini kita akan melanjutkan membaca kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis “Robohnya Surau Kami” (1956) bersama teman2 dari Cibogo Institute Kamis, 7 juni 2018. Tempat di Jebor Tunggal Asih, Dusun Cibogo, Burujul Kulon, Jatiwangi. Mulai jam 3 sore ya, mari datang! #BBdUedisi4  #aanavis  #rubuhnyasuraukami  #cerpen  #pembacapantura  #infomjlk  #Jatiwangi  #majalengka  #mjlk  #komunitas 
Perpustakaan Utara @pembacapantura mengundang kamu semua untuk baca buku bersama!
Kali ini kita akan melanjutkan membaca kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis “Robohnya Surau Kami” (1956) bersama teman2 dari Cibogo Institute.
Kamis, 7 juni 2018.
Tempat di Jebor Tunggal Asih, Dusun Cibogo, Burujul Kulon, Jatiwangi.
Mulai jam 3 sore ya, mari datang!
Hayu sih.... #BBdUedisi4 #aanavis #rubuhnyasuraukami #cerpen #pembacapantura #infojtw
Perpustakaan Utara @pembacapantura mengundang kamu semua untuk baca buku bersama! Kali ini kita akan melanjutkan membaca kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis “Robohnya Surau Kami” (1956) bersama teman2 dari Cibogo Institute. Kamis, 7 juni 2018. Tempat di Jebor Tunggal Asih, Dusun Cibogo, Burujul Kulon, Jatiwangi. Mulai jam 3 sore ya, mari datang! Hayu sih.... #BBdUedisi4  #aanavis  #rubuhnyasuraukami  #cerpen  #pembacapantura  #infojtw 
Robohnya Surau Kami

Robohnya Surau Kami adalah sebuah kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis. Cerpen ini pertama kali terbit pada tahun 1956, yang menceritakan dialog Tuhan dengan Haji Saleh, seorang warga Negara Indonesia yang selama hidupnya hanya beribadah dan beribadah. Cerpen ini dipandang sebagai salah satu karya monumental dalam dunia sastra Indonesia.

Buku Robohnya Surau Kami ini berisi 10 cerpen: Robohnya Surau Kami, Anak Kebanggaan, Nasihat-nasihat, Topi Helm, Datangnya dan Perginya, Pada Pembotakan Terakhir, Angin dari Gunung, Menanti Kelahiran, Penolong, dan Dari Masa ke Masa.

Di dalam setiap cerpennya di buku ini, A.A. Navis menampilkan wajah Indonesia di zamannya dengan penuh kegetiran. Penuh dengan kata-kata satir dan cemoohan akan kekolotan pemikiran manusia Indonesia saat itu - yang masih relevan pada masa sekarang ini.

Selamat membaca
______________________
#robohnyasuraukami #cerpen #kumcer #aanavis #bukumurah #buku #baca
Robohnya Surau Kami Robohnya Surau Kami adalah sebuah kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis. Cerpen ini pertama kali terbit pada tahun 1956, yang menceritakan dialog Tuhan dengan Haji Saleh, seorang warga Negara Indonesia yang selama hidupnya hanya beribadah dan beribadah. Cerpen ini dipandang sebagai salah satu karya monumental dalam dunia sastra Indonesia. Buku Robohnya Surau Kami ini berisi 10 cerpen: Robohnya Surau Kami, Anak Kebanggaan, Nasihat-nasihat, Topi Helm, Datangnya dan Perginya, Pada Pembotakan Terakhir, Angin dari Gunung, Menanti Kelahiran, Penolong, dan Dari Masa ke Masa. Di dalam setiap cerpennya di buku ini, A.A. Navis menampilkan wajah Indonesia di zamannya dengan penuh kegetiran. Penuh dengan kata-kata satir dan cemoohan akan kekolotan pemikiran manusia Indonesia saat itu - yang masih relevan pada masa sekarang ini. Selamat membaca ______________________ #robohnyasuraukami  #cerpen  #kumcer  #aanavis  #bukumurah  #buku  #baca 
Menunggu subuh sambil menikmati salah satu cerpen favorit. Di dalamnya tertulis dalam huruf balok, meskipun tak kasat mata, "Janganlah demi mengejar kesuksesan akhirat, melupakan tanggung jawab dunia". Agama diciptakan untuk mengatur kekacauan di dunia, demikian kata Gus Dur, bukan keteraturan di akhirat.
-
#robohnyasuraukami #aanavis  #bukusastra #jualbukusastra #metamorfosisbuku
Menunggu subuh sambil menikmati salah satu cerpen favorit. Di dalamnya tertulis dalam huruf balok, meskipun tak kasat mata, "Janganlah demi mengejar kesuksesan akhirat, melupakan tanggung jawab dunia". Agama diciptakan untuk mengatur kekacauan di dunia, demikian kata Gus Dur, bukan keteraturan di akhirat. - #robohnyasuraukami  #aanavis  #bukusastra  #jualbukusastra  #metamorfosisbuku 
#bbdu
#BBdUedisi3

Jatuh cinta pada tutur yang dikatakan dalam sebuah percakapan dalam cerpen "Robohnya surau kami" karya A.A.Navis. "Tak ku pikirkan hari esokku, karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih penyayang kepada umatNya yang tawakkal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul bedug membangunkan manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepadaNya. Aku bersembahyang setiap waktu. Aku puji-puji dia. Aku baca KitabNya. “Alahamdulillah” kataku bila aku menerima karuniaNya. “Astaghfirullah” kataku bila aku terkejut. ” Masa Allah bila aku kagum.” Apakah salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk.” ahhh.... Sosio-religi pisan.

#bbdu
#BBdUedisi3
#sosiologi #religion #robohnyasuraukami #aanavis #vespa #scooter #scoterist #membacadipantura #perpustakanpantura #aksarasukma
#bbdu  #BBdUedisi3  Jatuh cinta pada tutur yang dikatakan dalam sebuah percakapan dalam cerpen "Robohnya surau kami" karya A.A.Navis. "Tak ku pikirkan hari esokku, karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih penyayang kepada umatNya yang tawakkal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul bedug membangunkan manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepadaNya. Aku bersembahyang setiap waktu. Aku puji-puji dia. Aku baca KitabNya. “Alahamdulillah” kataku bila aku menerima karuniaNya. “Astaghfirullah” kataku bila aku terkejut. ” Masa Allah bila aku kagum.” Apakah salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk.” ahhh.... Sosio-religi pisan. #bbdu  #BBdUedisi3  #sosiologi  #religion  #robohnyasuraukami  #aanavis  #vespa  #scooter  #scoterist  #membacadipantura  #perpustakanpantura  #aksarasukma 
Baca buku estafet “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis edisi ke-3, di @kedaibaraya_ .

Sambil menikmati senja juga terbawa  arus cerpen tentang sosio-religinya, sehingga banyak sekali romansa-romansa yang dekat dengan kehidupan kita sebagai pemuda bermunculan. Pokoknya, the best dan pastinya kamu ketagihan untuk  membacanya lagi, lagi dan lagi... #iqro #iqra #BBDU
#BBdUedisi3
#pembacapantura
#robohnyasuraukami
#aanavis #perpustakaanjalanan #perpustakaankeliling #aksarasukma #literasi  #membaca #membacaadalahmelawan #membacaadalahmelawan #membacaadalahmelawan #membacaadalahmelawan #membacaadalahmelawan #membacaadalahhobi
#membacaadalahhobi
#membacaadalahsenjata #kedaibaraya #punkjumsih #leuwimunding #jatiwangi #majalengka
Baca buku estafet “Robohnya Surau Kami” karya A.A. Navis edisi ke-3, di @kedaibaraya_ . Sambil menikmati senja juga terbawa arus cerpen tentang sosio-religinya, sehingga banyak sekali romansa-romansa yang dekat dengan kehidupan kita sebagai pemuda bermunculan. Pokoknya, the best dan pastinya kamu ketagihan untuk membacanya lagi, lagi dan lagi... #iqro  #iqra  #BBDU  #BBdUedisi3  #pembacapantura  #robohnyasuraukami  #aanavis  #perpustakaanjalanan  #perpustakaankeliling  #aksarasukma  #literasi  #membaca  #membacaadalahmelawan  #membacaadalahmelawan  #membacaadalahmelawan  #membacaadalahmelawan  #membacaadalahmelawan  #membacaadalahhobi  #membacaadalahhobi  #membacaadalahsenjata  #kedaibaraya  #punkjumsih  #leuwimunding  #jatiwangi  #majalengka 
Robohnya Surau Kami
.
>>> Geser untuk Sinopsis
.
.
Robohnya Surau Kami adalah sebuah kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis. Cerpen ini pertama kali terbit pada tahun 1956, yang menceritakan dialog Tuhan dengan Haji Saleh, seorang warga Negara Indonesia yang selama hidupnya hanya beribadah dan beribadah. Cerpen ini dipandang sebagai salah satu karya monumental dalam dunia sastra Indonesia.
.
Buku Robohnya Surau Kami ini berisi 10 cerpen: Robohnya Surau Kami, Anak Kebanggaan, Nasihat-nasihat, Topi Helm, Datangnya dan Perginya, Pada Pembotakan Terakhir, Angin dari Gunung, Menanti Kelahiran, Penolong, dan Dari Masa ke Masa.
.
Di dalam setiap cerpennya di buku ini, A.A. Navis menampilkan wajah Indonesia di zamannya dengan penuh kegetiran. Penuh dengan kata-kata satir dan cemoohan akan kekolotan pemikiran manusia Indonesia saat itu - yang masih relevan pada masa sekarang ini.
.
.
Penulis : A.A. Navis
Tebal : 139 halaman bookpaper
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2012
.
Idr : 58k
DM untuk Memesan!
.
.
#bukupeledak #cerpen #sosioreligius #jualbuku #ceritapendek #saraswati #hujanpanas #bukubekas #ceritarakyatsumbar #SastraIndonesia #jurnalistik #robohnyasuraukami #AANavis #sastraindonesia
Robohnya Surau Kami . >>> Geser untuk Sinopsis . . Robohnya Surau Kami adalah sebuah kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis. Cerpen ini pertama kali terbit pada tahun 1956, yang menceritakan dialog Tuhan dengan Haji Saleh, seorang warga Negara Indonesia yang selama hidupnya hanya beribadah dan beribadah. Cerpen ini dipandang sebagai salah satu karya monumental dalam dunia sastra Indonesia. . Buku Robohnya Surau Kami ini berisi 10 cerpen: Robohnya Surau Kami, Anak Kebanggaan, Nasihat-nasihat, Topi Helm, Datangnya dan Perginya, Pada Pembotakan Terakhir, Angin dari Gunung, Menanti Kelahiran, Penolong, dan Dari Masa ke Masa. . Di dalam setiap cerpennya di buku ini, A.A. Navis menampilkan wajah Indonesia di zamannya dengan penuh kegetiran. Penuh dengan kata-kata satir dan cemoohan akan kekolotan pemikiran manusia Indonesia saat itu - yang masih relevan pada masa sekarang ini. . . Penulis : A.A. Navis Tebal : 139 halaman bookpaper Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2012 . Idr : 58k DM untuk Memesan! . . #bukupeledak  #cerpen  #sosioreligius  #jualbuku  #ceritapendek  #saraswati  #hujanpanas  #bukubekas  #ceritarakyatsumbar  #SastraIndonesia  #jurnalistik  #robohnyasuraukami  #AANavis  #sastraindonesia 
Hari ini yaa jangan lupa
-
-… Perpustakaan Utara mengundang kamu semua untuk baca buku bersama!
Kali ini kita akan membaca kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis “Robohnya Surau Kami” (1956)
Mari datang dan bertandang!

#BBdUedisi3 #aanavis #rubuhnyasuraukami #cerpen #pembacapantura #infojtw
Membaca di utara mengundang kamu dan kalian semua untuk baca buku bersama!
Besok hari kamis tanggal 31-mei-2018
Di @kedaibaraya_ 
Kali ini kita akan membaca kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis “Rubuhnya Surau Kami” (1956)
Mari datang dan bertandang!

#membacadiutara #membacadidesa #BBDU #bbdu #BBdUedisi3 #aanavis #rubuhnyasuraukami #cerpen #pembacapantura #pojokpustaka #aksarasukma #Kedaibaraya #membacaadalahhobi #membacaadalahhobi #membacaadalahhobi #membacaadalahsenjata #membacaadalahmelawan #Repost @pembacapantura with @insta.save.repost • • •
Membaca di utara mengundang kamu dan kalian semua untuk baca buku bersama! Besok hari kamis tanggal 31-mei-2018 Di @kedaibaraya_ Kali ini kita akan membaca kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis “Rubuhnya Surau Kami” (1956) Mari datang dan bertandang! #membacadiutara  #membacadidesa  #BBDU  #bbdu  #BBdUedisi3  #aanavis  #rubuhnyasuraukami  #cerpen  #pembacapantura  #pojokpustaka  #aksarasukma  #Kedaibaraya  #membacaadalahhobi  #membacaadalahhobi  #membacaadalahhobi  #membacaadalahsenjata  #membacaadalahmelawan  #Repost  @pembacapantura with @insta.save.repost • • •
Perpustakaan Utara mengundang kamu semua untuk baca buku bersama!
Kali ini kita akan membaca kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis “Robohnya Surau Kami” (1956)
Mari datang dan bertandang!

#BBdUedisi3 #aanavis #rubuhnyasuraukami #cerpen #pembacapantura
Dari @pembacapantura

Perpustakaan Utara mengundang kamu semua untuk baca buku bersama!
Kali ini kita akan membaca kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis “Robohnya Surau Kami” (1956)
Mari datang dan bertandang!

#BBdUedisi3 #aanavis #rubuhnyasuraukami #cerpen #pembacapantura
Dari @pembacapantura Perpustakaan Utara mengundang kamu semua untuk baca buku bersama! Kali ini kita akan membaca kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis “Robohnya Surau Kami” (1956) Mari datang dan bertandang! #BBdUedisi3  #aanavis  #rubuhnyasuraukami  #cerpen  #pembacapantura 
Perpustakaan Utara mengundang kamu semua untuk baca buku bersama!
Kali ini kita akan membaca kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis “Robohnya Surau Kami” (1956)
Mari datang dan bertandang!

#BBdUedisi3 #aanavis #rubuhnyasuraukami #cerpen #pembacapantura
Perpustakaan Utara mengundang kamu semua untuk baca buku bersama!
Kali ini kita akan membaca kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis “Rubuhnya Surau Kami” (1956)
Mari datang dan bertandang!
@kedaibaraya_

#BBdUedisi3 #bbdu #aanavis #rubuhnyasuraukami #cerpen #membacaadalahmelawan #membacaadalahhobi #membacaadalahhobi #pembacapantura #Repost @pembacapantura with @insta.save.repost • • •
Perpustakaan Utara mengundang kamu semua untuk baca buku bersama!
Kali ini kita akan membaca kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis “Robohnya Surau Kami” (1956)
Mari datang dan bertandang!

#BBdUedisi3 #aanavis #rubuhnyasuraukami #cerpen #pembacapantura
Perpustakaan Utara mengundang kamu semua untuk baca buku bersama!
Kali ini kita akan membaca kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis “Rubuhnya Surau Kami” (1956)
Mari datang dan bertandang!

#BBdUedisi3 #aanavis #rubuhnyasuraukami #cerpen #pembacapantura
Biar tetep waras

#robohnyasuraukami #aanavis
Haji Ali Akbar Navis (lahir di Kampung Jawa, Padangpanjang, Sumatra's Westkust, 17 November 1924 – meninggal di Padang, Sumatera Barat, 22 Maret 2003 pada umur 78 tahun) adalah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia yang lebih dikenal dengan nama A.A. Navis. Ia menjadikan menulis sebagai alat dalam kehidupannya. Karyanya yang terkenal adalah cerita pendek Robohnya Surau Kami. Navis 'Sang Pencemooh' adalah sosok yang ceplas-ceplos, apa adanya. Kritik-kritik sosialnyamengalir apa adanya untuk membangunkan kesadaran setiap pribadi, agar hidup lebih bermakna. Ia selalu mengatakan yang hitam itu hitam dan yang putih itu putih. Ia amat gelisah melihat negeri ini digerogoti para koruptor. Pada suatu kesempatan ia mengatakan kendati menulis adalah alat utamanya dalam kehidupan, tetapi jika dikasih memilih, ia akan pilih jadi penguasa untuk menangkapi para koruptor. Walaupun ia tahu resikonya, mungkin dalam tiga bulan, ia justru akan duluan ditembak mati oleh para koruptor itu. #minangpuisi
_
#MinangLipp @minanglipp
#infosumbar @infosumbar
#ruangkerjabudaya @ruangkerjabudaya
#orangkayabuku @orangkayabuku #minangsedunia #minangkocak #padangunfinishedpoems #padang #aanavis #kicausajak
Haji Ali Akbar Navis (lahir di Kampung Jawa, Padangpanjang, Sumatra's Westkust, 17 November 1924 – meninggal di Padang, Sumatera Barat, 22 Maret 2003 pada umur 78 tahun) adalah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia yang lebih dikenal dengan nama A.A. Navis. Ia menjadikan menulis sebagai alat dalam kehidupannya. Karyanya yang terkenal adalah cerita pendek Robohnya Surau Kami. Navis 'Sang Pencemooh' adalah sosok yang ceplas-ceplos, apa adanya. Kritik-kritik sosialnyamengalir apa adanya untuk membangunkan kesadaran setiap pribadi, agar hidup lebih bermakna. Ia selalu mengatakan yang hitam itu hitam dan yang putih itu putih. Ia amat gelisah melihat negeri ini digerogoti para koruptor. Pada suatu kesempatan ia mengatakan kendati menulis adalah alat utamanya dalam kehidupan, tetapi jika dikasih memilih, ia akan pilih jadi penguasa untuk menangkapi para koruptor. Walaupun ia tahu resikonya, mungkin dalam tiga bulan, ia justru akan duluan ditembak mati oleh para koruptor itu. #minangpuisi  _ #MinangLipp  @minanglipp #infosumbar  @infosumbar #ruangkerjabudaya  @ruangkerjabudaya #orangkayabuku  @orangkayabuku #minangsedunia  #minangkocak  #padangunfinishedpoems  #padang  #aanavis  #kicausajak 
Apa pun katamu, aku tidak peduli. Aku sudah tinggalkan jejak di perjalananku. Kemarin bukan hari ini, juga tidak esok. Konsisten dengan apa yg kupilih dan hadapi yang lebih dekat. Sedikit akan tetap berharga daripada hanya berkata. Apa pun bagiku selalu bernilai dan berharga. Hidup bukan untuk menggapai bintang, tidak untuk memeluk bulan, tapi untuk bermanfaat dan menginspirasi. Cukup buatku dan kuharap juga lega untukmu. ++++
Dulu, pak Navis berkata tentang pentingnya menulis. "Tulislah apa saja, nantilah urusan bagus tidak bagus, soal klasifikasi, dan alasan lainnya. Menulis saja dahulu, nanti urusan benah membenahi," AA. Navis 
Aku berpikir penting untuk menulis agar tidak lupa jalan pulang. Mengingat beliau, Alfatiha..moga Apak bahagia dalam pelukan Allah, aamiin. ++++
Wisran Hadi dalam tulisan, caraku mengingat dan berterima kasih karena telah memberiku pelajaran sejak dahulu. Semoga beliau bahagia di keabadianNya. Alfatiha untuk Apak..aamiin.

#jurnal 
#kantorbahasabengkulu 
#tulisan 
#wisranhadi 
#guruku
#jejakdiri 
#kutuliskan 
#sedikit 
#berharga 
#caraku 
#mengenang 
#aanavis
Apa pun katamu, aku tidak peduli. Aku sudah tinggalkan jejak di perjalananku. Kemarin bukan hari ini, juga tidak esok. Konsisten dengan apa yg kupilih dan hadapi yang lebih dekat. Sedikit akan tetap berharga daripada hanya berkata. Apa pun bagiku selalu bernilai dan berharga. Hidup bukan untuk menggapai bintang, tidak untuk memeluk bulan, tapi untuk bermanfaat dan menginspirasi. Cukup buatku dan kuharap juga lega untukmu. ++++ Dulu, pak Navis berkata tentang pentingnya menulis. "Tulislah apa saja, nantilah urusan bagus tidak bagus, soal klasifikasi, dan alasan lainnya. Menulis saja dahulu, nanti urusan benah membenahi," AA. Navis Aku berpikir penting untuk menulis agar tidak lupa jalan pulang. Mengingat beliau, Alfatiha..moga Apak bahagia dalam pelukan Allah, aamiin. ++++ Wisran Hadi dalam tulisan, caraku mengingat dan berterima kasih karena telah memberiku pelajaran sejak dahulu. Semoga beliau bahagia di keabadianNya. Alfatiha untuk Apak..aamiin. #jurnal  #kantorbahasabengkulu  #tulisan  #wisranhadi  #guruku  #jejakdiri  #kutuliskan  #sedikit  #berharga  #caraku  #mengenang  #aanavis 
Mata yang Indah: Cerpen Pilihan Kompas 2001
A.A. Navis, Budi Darma, Cok Sawitri, Gus tf Sakai, Harris Effendi Thahar, Herlino Soleman, Indra Tranggono, Jujur Prananto, Kusman, Martin Aleida, Ratna Indraswari Ibrahim, Sori Siregar, Umar Kayam, Veven Sp Wardhana, Wilson Nadeak, Yanusa Nugroho

Kondisi bekas, mulus
75K
.
.
.
.
.
#matayangindah #cerpenkompas #cerpenpilihankompas #kumcer #sastraindonesia #bukusastra #bukusastramurah #bukubekas #bukubekasmurah #bukumurah #aanavis #budidarma #coksawitri #gustfsakai #harriseffendithahar #herlinosoleman #indratranggono #jujurprananto #kusman #martinaleida #ratnaindraswariibrahim #sorisiregar #umarkayam #vevenspwardhana #wilsonnadeak #yanusanugroho
Mata yang Indah: Cerpen Pilihan Kompas 2001 A.A. Navis, Budi Darma, Cok Sawitri, Gus tf Sakai, Harris Effendi Thahar, Herlino Soleman, Indra Tranggono, Jujur Prananto, Kusman, Martin Aleida, Ratna Indraswari Ibrahim, Sori Siregar, Umar Kayam, Veven Sp Wardhana, Wilson Nadeak, Yanusa Nugroho Kondisi bekas, mulus 75K . . . . . #matayangindah  #cerpenkompas  #cerpenpilihankompas  #kumcer  #sastraindonesia  #bukusastra  #bukusastramurah  #bukubekas  #bukubekasmurah  #bukumurah  #aanavis  #budidarma  #coksawitri  #gustfsakai  #harriseffendithahar  #herlinosoleman  #indratranggono  #jujurprananto  #kusman  #martinaleida  #ratnaindraswariibrahim  #sorisiregar  #umarkayam  #vevenspwardhana  #wilsonnadeak  #yanusanugroho 
"... Kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua?"
.
"Aku berikan negeri yang kaya raya, tapi kau malas!"
"Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh."
.
"Engkau kira Aku ini gila pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuja-muja dan menyembah-Ku saja?!" "Tidak, kalian semua masuk neraka!"
. - A. A. Navis : Robohnya Surau Kami -

Sastra Legendaris karya asli salah satu putra terbaik Minangkabau
.
Jika yang rajin beribadah saja masih belum punya garansi masuk surga, bagaimana yang tidak? .
#Cerpen
#Novel
#AANavis
#RobohnyaSurauKami
#Buku
"... Kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua?" . "Aku berikan negeri yang kaya raya, tapi kau malas!" "Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh." . "Engkau kira Aku ini gila pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuja-muja dan menyembah-Ku saja?!" "Tidak, kalian semua masuk neraka!" . - A. A. Navis : Robohnya Surau Kami - Sastra Legendaris karya asli salah satu putra terbaik Minangkabau . Jika yang rajin beribadah saja masih belum punya garansi masuk surga, bagaimana yang tidak? . #Cerpen  #Novel  #AANavis  #RobohnyaSurauKami  #Buku 
Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang
S. Takdir Alisjahbana
Subagio Sastrowardoyo
A.A. Navis
Trisnoyuwono
Wildan Yatim
Nh. Dini
Budi Darma
Ajip Rosidi
Putu Wijaya
Julius R. Siyaranamual
Arswendo Atmowiloto
Pamusuk Eneste, editor

Kondisi bekas, baik
60K
.
.
.
.
.
.
.
#proseskreatif #mengapadanbagaimanasayamengarang #SutanTakdirAlisjahbana #stakdiralisjahbana
#SubagioSastrowardoyo
#AANavis
#Trisnoyuwono
#WildanYatim
#NhDini
#BudiDarma
#AjipRosidi
#PutuWijaya
#JuliusRSiyaranamual
#ArswendoAtmowiloto
#PamusukEneste
#sastraindonesia
#bukusastra #bukusastramurah #bukulangka #bukulangkamurah
Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang S. Takdir Alisjahbana Subagio Sastrowardoyo A.A. Navis Trisnoyuwono Wildan Yatim Nh. Dini Budi Darma Ajip Rosidi Putu Wijaya Julius R. Siyaranamual Arswendo Atmowiloto Pamusuk Eneste, editor Kondisi bekas, baik 60K . . . . . . . #proseskreatif  #mengapadanbagaimanasayamengarang  #SutanTakdirAlisjahbana  #stakdiralisjahbana  #SubagioSastrowardoyo  #AANavis  #Trisnoyuwono  #WildanYatim  #NhDini  #BudiDarma  #AjipRosidi  #PutuWijaya  #JuliusRSiyaranamual  #ArswendoAtmowiloto  #PamusukEneste  #sastraindonesia  #bukusastra  #bukusastramurah  #bukulangka  #bukulangkamurah 
Kumpulan Cerpen "Robohnya Surau Kami" Karangan AA Navis.
Terbitan ke-12 Gramedia pada tahun 2012.

Buku ini berisi 10 cerita pendek. Semuanya, saya menemukan apa yang sebenarnya ada pada negeri ini. Buku ini memberikan otokritik kepada bangsa. Siapa pun itu. Kita, bisa saja. 
Perihal ibadah seorang manusia, hubungan keluarga, sosial, politik, dan masih banyak lagi. Bahwa negeri ini sudah dan masih saja rusak adanya. Butuh banyak perbaikan di sini dan sana. Membaca ini menggugah saya. Bahwa sastra adalah senjata ketika siapa pun telah dibungkam. Sastra yang akan berbicara lewat kata-katanya. 
Terimakasih teruntuk beliau, alm. AA Navis yang dengan begitu luar biasanya menghadirkan karya ini. Semoga, masih akan terus bertambah kepala yang hendak membacanya. Tidak cukup berhenti di saya. Sekian.

#pengenceritaaja #robohnyasuraukami #aanavis #goodreads #sastraindonesia #cerpen #ceritapendek
Kumpulan Cerpen "Robohnya Surau Kami" Karangan AA Navis. Terbitan ke-12 Gramedia pada tahun 2012. Buku ini berisi 10 cerita pendek. Semuanya, saya menemukan apa yang sebenarnya ada pada negeri ini. Buku ini memberikan otokritik kepada bangsa. Siapa pun itu. Kita, bisa saja. Perihal ibadah seorang manusia, hubungan keluarga, sosial, politik, dan masih banyak lagi. Bahwa negeri ini sudah dan masih saja rusak adanya. Butuh banyak perbaikan di sini dan sana. Membaca ini menggugah saya. Bahwa sastra adalah senjata ketika siapa pun telah dibungkam. Sastra yang akan berbicara lewat kata-katanya. Terimakasih teruntuk beliau, alm. AA Navis yang dengan begitu luar biasanya menghadirkan karya ini. Semoga, masih akan terus bertambah kepala yang hendak membacanya. Tidak cukup berhenti di saya. Sekian. #pengenceritaaja  #robohnyasuraukami  #aanavis  #goodreads  #sastraindonesia  #cerpen  #ceritapendek 
Interpretasi cerpen "Dari Masa ke Masa" karangan AA Navis.

Sebagai bagian akhir dari kumpulan cerpen "Robohnya Surau Kami" cerpen ini laksana menutup semua isi dalam buku ini. Seolah secara menyeluruh membahas isi dari buku ini.

Membicarakan tentang kehidupan seorang anak muda dengan orang-orang tua. Siapa yang tak pernah merasakan tentang apa yang hendak dilakukan harus dipatahkan oleh kenyataan bahwa orang tua mempunya keinginan lainnya yang mau tak mau, tak bisa terbantahkan. Kita mesti mengikutinya.

Belum lagi akhirnya permusuhan dalam batin yang selesai karena itu semua. Kita juga akhirnya mau tak mau dalam hidup ini hari menjalani kehidupan yang berbeda dengan orang lainnya. Entah sebab apa pun itu. Isi kepala, misalnya. Kita seolah enggan bersahabat dengan perbedaan hingga menghasilkan permusuhan. Yang paling menyakitkan adalah ketika politik membicarakan perbedaan. Mati kita dihujam perpecahan.

Semua akan terus ada sampai sekian lama kita memiliki masa. Ketika dulu dalam kepala ada kalimat, "Mengapa harus ada ini dan itu yang kulakukan meski tak kuinginkan?" hingga akhirnya disahuti oleh kepala, "Aku akan seperti "ini" kelak. Agar tak ada lagi yang merasakan seperti yang aku rasakan." Tapi siapa sangka, waktu terus berjalan, dan telah tiba di masa yang diinginkan. Saat itu, nyatanya kehormatan begitu didambakan. Kita menginginkan seperti masa lampau. Kita memilih melakukan apa yang kita ucapkan. Melakukan "ini" dan menikmati berjalannya waktu. Tahu kah apa yang terjadi kini?

Begini lah negeri. Isi kepala dari dulu hingga kini, selalu begini. Terlalu banyak yang diingini dari kepala-kepala yang bernyanyi. Roda terus berputar. Begitu juga waktu. Kini yang bisa berlaku adalah kita memperbaiki apa yang kita lakukan di masa lalu. Kita, adalah hasil produksi waktu. Pilihan telah diambil, resiko adalah sesuatu yang mesti juga diterima. Nikmatilah. Terima kasih
©@pinterest 
#pengenceritaaja #robohnyasuraukami #aanavis #goodreads #gramedia #sastraindonesia #ceritapendek #cerpen
Interpretasi cerpen "Dari Masa ke Masa" karangan AA Navis. Sebagai bagian akhir dari kumpulan cerpen "Robohnya Surau Kami" cerpen ini laksana menutup semua isi dalam buku ini. Seolah secara menyeluruh membahas isi dari buku ini. Membicarakan tentang kehidupan seorang anak muda dengan orang-orang tua. Siapa yang tak pernah merasakan tentang apa yang hendak dilakukan harus dipatahkan oleh kenyataan bahwa orang tua mempunya keinginan lainnya yang mau tak mau, tak bisa terbantahkan. Kita mesti mengikutinya. Belum lagi akhirnya permusuhan dalam batin yang selesai karena itu semua. Kita juga akhirnya mau tak mau dalam hidup ini hari menjalani kehidupan yang berbeda dengan orang lainnya. Entah sebab apa pun itu. Isi kepala, misalnya. Kita seolah enggan bersahabat dengan perbedaan hingga menghasilkan permusuhan. Yang paling menyakitkan adalah ketika politik membicarakan perbedaan. Mati kita dihujam perpecahan. Semua akan terus ada sampai sekian lama kita memiliki masa. Ketika dulu dalam kepala ada kalimat, "Mengapa harus ada ini dan itu yang kulakukan meski tak kuinginkan?" hingga akhirnya disahuti oleh kepala, "Aku akan seperti "ini" kelak. Agar tak ada lagi yang merasakan seperti yang aku rasakan." Tapi siapa sangka, waktu terus berjalan, dan telah tiba di masa yang diinginkan. Saat itu, nyatanya kehormatan begitu didambakan. Kita menginginkan seperti masa lampau. Kita memilih melakukan apa yang kita ucapkan. Melakukan "ini" dan menikmati berjalannya waktu. Tahu kah apa yang terjadi kini? Begini lah negeri. Isi kepala dari dulu hingga kini, selalu begini. Terlalu banyak yang diingini dari kepala-kepala yang bernyanyi. Roda terus berputar. Begitu juga waktu. Kini yang bisa berlaku adalah kita memperbaiki apa yang kita lakukan di masa lalu. Kita, adalah hasil produksi waktu. Pilihan telah diambil, resiko adalah sesuatu yang mesti juga diterima. Nikmatilah. Terima kasih ©@pinterest #pengenceritaaja  #robohnyasuraukami  #aanavis  #goodreads  #gramedia  #sastraindonesia  #ceritapendek  #cerpen 
Interpretasi cerpen "Penolong" karangan AA Navis.

Kesemrawutan transportasi umum kita nyatanya sudah jadi cerita lama. Bagaimana kereta api baru di rasa lebih nyaman, kita rasa banyak orang sepakat itu belum lama ini baru dapat dirasakan. Kiranya, begitulah cerita ini bermula.

Apa yang terjadi dengan transportasi umum bangsa ini, terutama kereta api. Kita semua sepertinya menyadari telah cukup banyak memakan korban jiwa yang mati karena kelalaian atau hal lainnya. Kemudian, apa yang terjadi dengan masyarakat sekitar, mungkin perlahan kita menyadari tanpa kesadaran dalam diri bahwa amat mengenaskan. Saya percaya akan muncul tanya "Kenapa?" di dalam kepala kita.

Keniatan jiwa untuk menggerakkan raganya membantu sesama, dirasa hilang di depan mata. Kita akan lebih banyak menemukan mata kamera di mana-mana dibandingkan dengan raga yang bergerak menolong sesama. Ya, kiranya begitulah negeri ini dalam banyak kepala.

Sebuah kebaikan telah menjadi barang langka. Istimewa. Tapi, juga mengecewakan. Bagaimana semua itu tidak begitu rasanya. Ketika kebaikan tak lagi dapat ditemukan. Andai pun itu ada, akan hilang bersama suara masa. Gila. Begitulah mereka menyebut kebaikan yang hadir di negeri kita.

Entahlah, saya hanya bisa membiarkan siapa saja yang membaca ini, dan cerita pendek "Penolong" karangan AA Navis dengan isi kepalanya. Apakah kata itu, bermakna sebagaimana mestinya, atau sekadar metafora yang menjadi pujian luar biasa. 
Setidaknya, dari cerpen ini saya merasa. Kebaikan adalah sesuatu yang tak terduga. Sedikit yang dapat melakukannya, dan bisa saja hilang ditelan masa. Terimakasih.
©@pinterest 
#pengenceritaaja #robohnyasuraukami #aanavis #goodreads #gramedia #sastraindonesia #ceritapendek
Interpretasi cerpen "Penolong" karangan AA Navis. Kesemrawutan transportasi umum kita nyatanya sudah jadi cerita lama. Bagaimana kereta api baru di rasa lebih nyaman, kita rasa banyak orang sepakat itu belum lama ini baru dapat dirasakan. Kiranya, begitulah cerita ini bermula. Apa yang terjadi dengan transportasi umum bangsa ini, terutama kereta api. Kita semua sepertinya menyadari telah cukup banyak memakan korban jiwa yang mati karena kelalaian atau hal lainnya. Kemudian, apa yang terjadi dengan masyarakat sekitar, mungkin perlahan kita menyadari tanpa kesadaran dalam diri bahwa amat mengenaskan. Saya percaya akan muncul tanya "Kenapa?" di dalam kepala kita. Keniatan jiwa untuk menggerakkan raganya membantu sesama, dirasa hilang di depan mata. Kita akan lebih banyak menemukan mata kamera di mana-mana dibandingkan dengan raga yang bergerak menolong sesama. Ya, kiranya begitulah negeri ini dalam banyak kepala. Sebuah kebaikan telah menjadi barang langka. Istimewa. Tapi, juga mengecewakan. Bagaimana semua itu tidak begitu rasanya. Ketika kebaikan tak lagi dapat ditemukan. Andai pun itu ada, akan hilang bersama suara masa. Gila. Begitulah mereka menyebut kebaikan yang hadir di negeri kita. Entahlah, saya hanya bisa membiarkan siapa saja yang membaca ini, dan cerita pendek "Penolong" karangan AA Navis dengan isi kepalanya. Apakah kata itu, bermakna sebagaimana mestinya, atau sekadar metafora yang menjadi pujian luar biasa. Setidaknya, dari cerpen ini saya merasa. Kebaikan adalah sesuatu yang tak terduga. Sedikit yang dapat melakukannya, dan bisa saja hilang ditelan masa. Terimakasih. ©@pinterest #pengenceritaaja  #robohnyasuraukami  #aanavis  #goodreads  #gramedia  #sastraindonesia  #ceritapendek 
Interpretasi cerpen "Angin dari Gunung" karangan AA Navis.

Peperangan selalu menyisakan hal-hal menyakitkan. Begitulah kiranya saya melihat cerita ini disampaikan. Tak hanya soal badan yang akhirnya mesti kehilangan kedua tangan. Tapi juga perasaan, yang mesti ditinggal sang pujaan.

Yang lahir dari selesainya peperangan adalah kebencian yang terus-menerus memamahbiak. Mereka yang badannya kehilangan, dibenci orang banyak sebab ketaksempurnaan. Dianggap sebagai sesuatu yang tak berguna dan diabaikan begitu saja. Kata-kata penolakan menjadi hal biasa di telinga. Setelah sekian lama dipuja karena kesempurnaan tubuh dan keelokan segala. Perang menghilangkan semua.

Kebencian orang pada dirinya tak cukup, nyatanya. Ia kini membenci dirinya sendiri. Ia mengutuki keadaan. Kenapa ini harus terjadi. Ia ingin kembali, menjadi seseorang yang begitu diingini oleh siapa saja. Membiarkan orang-orang rela untuk melakukan apa saja demi dirinya. Kini semua hanya kenang belaka.

Ketika kebencian pada dirinya menyapa. Tanpa sadar ia juga menyayat hati semesta. Mereka yang mendengar sayup-sayup celotehannya, teriris hingga luka. Kebencian itu kini hinggap secara manasuka. Menular kepada siapa saja.

Adakah dengan begitu kita baik-baik saja? Atau kebaikbaikan itu perlahan hilang entah kemana? Bisa jadi, kebencian kini menjuara pada hati manusia. Kita diantaranya. ©@pinterest 
#pengenceritaaja #robohnyasuraukami #aanavis #goodreads #gramedia #sastraindonesia #cerpen
Interpretasi cerpen "Angin dari Gunung" karangan AA Navis. Peperangan selalu menyisakan hal-hal menyakitkan. Begitulah kiranya saya melihat cerita ini disampaikan. Tak hanya soal badan yang akhirnya mesti kehilangan kedua tangan. Tapi juga perasaan, yang mesti ditinggal sang pujaan. Yang lahir dari selesainya peperangan adalah kebencian yang terus-menerus memamahbiak. Mereka yang badannya kehilangan, dibenci orang banyak sebab ketaksempurnaan. Dianggap sebagai sesuatu yang tak berguna dan diabaikan begitu saja. Kata-kata penolakan menjadi hal biasa di telinga. Setelah sekian lama dipuja karena kesempurnaan tubuh dan keelokan segala. Perang menghilangkan semua. Kebencian orang pada dirinya tak cukup, nyatanya. Ia kini membenci dirinya sendiri. Ia mengutuki keadaan. Kenapa ini harus terjadi. Ia ingin kembali, menjadi seseorang yang begitu diingini oleh siapa saja. Membiarkan orang-orang rela untuk melakukan apa saja demi dirinya. Kini semua hanya kenang belaka. Ketika kebencian pada dirinya menyapa. Tanpa sadar ia juga menyayat hati semesta. Mereka yang mendengar sayup-sayup celotehannya, teriris hingga luka. Kebencian itu kini hinggap secara manasuka. Menular kepada siapa saja. Adakah dengan begitu kita baik-baik saja? Atau kebaikbaikan itu perlahan hilang entah kemana? Bisa jadi, kebencian kini menjuara pada hati manusia. Kita diantaranya. ©@pinterest #pengenceritaaja  #robohnyasuraukami  #aanavis  #goodreads  #gramedia  #sastraindonesia  #cerpen 
Interpretasi cerpen "Pada Pembotakan Terakhir" karangan AA Navis.

Anak kecil punya kepolosan pola pikir. Mereka tak tahu apa-apa sampai kita menjelaskannya perihal apa. Begitulah kiranya cerita ini berkata.

Mereka punya jutaan tanya di dalam kepala yang karena kita, akhirnya tak berani mengungkapkannya. Hanya jadi basian dan tanpa jawaban.

Kejujuran adalah suatu warisan yang perlahan mereka tinggalkan. Karena ketakutan lebih menakutkan dibanding suara yang berkumandang. Diam adalah pilihan paling aman. Meski pada kenyataannya mereka tahu itu adalah sebuah kesalahan.

Anak kecil tak bisa apa-apa. Ketakbisaan itu pun mewaris kepada kita. Bukan karena semestinya. Tapi kita, memilih diam dan membiarkan saja. Bukan urusan, tak ada untung ikut campur. Cukuplah kiranya kasihan. Itu saja yang kita bisa.

Pengabaian jadi kebiasaan. Orang salah didiamkan, sebagaimana kalimat yang biasa diucapkan, "Jika salah, maka benarkan." Pada bagian mana yang salah bisa jadi benar?

Cerita ini, mengajarkan saya suatu hal. Kejujuran adalah sesuatu yang mesti diucapkan. Tak perlu disembunyikan. Jangan disimpan sendirian. Maka pada masa yang kesekian, jawaban akan ditemukan. Meski telah berulang kali purnama silih berganti. Terima kasih.
©@pinterest 
#pengenceritaaja #robohnyasuraukami #aanavis #gramedia #sastraindonesia #cerpen #goodreads
Interpretasi cerpen "Pada Pembotakan Terakhir" karangan AA Navis. Anak kecil punya kepolosan pola pikir. Mereka tak tahu apa-apa sampai kita menjelaskannya perihal apa. Begitulah kiranya cerita ini berkata. Mereka punya jutaan tanya di dalam kepala yang karena kita, akhirnya tak berani mengungkapkannya. Hanya jadi basian dan tanpa jawaban. Kejujuran adalah suatu warisan yang perlahan mereka tinggalkan. Karena ketakutan lebih menakutkan dibanding suara yang berkumandang. Diam adalah pilihan paling aman. Meski pada kenyataannya mereka tahu itu adalah sebuah kesalahan. Anak kecil tak bisa apa-apa. Ketakbisaan itu pun mewaris kepada kita. Bukan karena semestinya. Tapi kita, memilih diam dan membiarkan saja. Bukan urusan, tak ada untung ikut campur. Cukuplah kiranya kasihan. Itu saja yang kita bisa. Pengabaian jadi kebiasaan. Orang salah didiamkan, sebagaimana kalimat yang biasa diucapkan, "Jika salah, maka benarkan." Pada bagian mana yang salah bisa jadi benar? Cerita ini, mengajarkan saya suatu hal. Kejujuran adalah sesuatu yang mesti diucapkan. Tak perlu disembunyikan. Jangan disimpan sendirian. Maka pada masa yang kesekian, jawaban akan ditemukan. Meski telah berulang kali purnama silih berganti. Terima kasih. ©@pinterest #pengenceritaaja  #robohnyasuraukami  #aanavis  #gramedia  #sastraindonesia  #cerpen  #goodreads 
Interpretasi cerpen "Datangnya dan Perginya" karangan AA Navis.

Cerita ini menggambarkan kisah tentang seorang lelaki yang juga menjadi seorang ayah. Lelaki yang memiliki cinta yang mesti hilang. Kehilangan cinta membawanya kepada pelabuhan cinta lainnya. Hanya berlabuh sebab tak pernah memenuhi inginnya. Cintanya masih terasa lama. Hingga pada akhirnya sang lelaki melabuhkan diri pada pelabuhan-pelabuhan yang tak akan ada cinta di sana. Ketiadaan cinta, akhirnya membutakan segala. Sang lelaki, mesti kehilangan cinta satu-satunya. Anaknya.

Ketiadaan sesiapa pada sisinya menghadirkan kerinduan yang tak berbatas luasnya. Sampai pada ketika gambar anak dan keluarganya menjadi obat dari rindu yang menganga. Bersama tulisan yang mengundangnya temui mereka. Namun, yang ada dalam kepala, "Adakah maafku akan diterima? Haruskah begini sampai berakhirnya masa?" Sang ayah, mengingat lagi bagaimana ia goreskan luka yang menganga.

Masa lalu merupakan tinta yang menggoreskan masa depan. Sebagaimana pelabuhan cinta yang dicampakkan, akhirnya menjadi cinta yang disia-siakan. Sampai akhirnya penyesalan itu menghadirkan pemakluman untuk memberikan kebahagiaan di masa depan. Ada banyak hal-hal yang dinilai pantas dilakukan demi kebahagiaan. Apakah itu dibenarkan?

Cerita ini seolah memberikan peringatan kepada kita perihal kehati-hatian. Pada segala hal. Fenomena masyarakat sekarang, membuat kita harus mencari tahu banyak hal dari mana semua berasal. Adakah memang dibolehkan?

Yang menarik dari cerita ini adalah saya membacanya setelah tulisan saya sebelumnya mendapat perhatian dari keluarga penulis. Saya menemukan kerinduan terhadap sang empunya cerita pada akun mbak @rikanavis yang mana saya hanya bisa mengatakan, "Mbak, andai beliau dapat menyampaikan bagaimana kerinduan yang saat ini beliau rasakan kepada mbak dan keluarga, mungkin sebagian isi cerita ini dapat menggambarkan bagaimana rasa rindu beliau yang tak bisa tersampaikan." Gaya menulis yang luar biasa. Saya juga menemukan bagaimana alm. Bapak saya akhirnya tergambarkan rasa rindunya. Terimakasih.
©@pinterest 
#pengenceritaaja #aanavis #robohnyasuraukami #gramedia #Datangny
Interpretasi cerpen "Datangnya dan Perginya" karangan AA Navis. Cerita ini menggambarkan kisah tentang seorang lelaki yang juga menjadi seorang ayah. Lelaki yang memiliki cinta yang mesti hilang. Kehilangan cinta membawanya kepada pelabuhan cinta lainnya. Hanya berlabuh sebab tak pernah memenuhi inginnya. Cintanya masih terasa lama. Hingga pada akhirnya sang lelaki melabuhkan diri pada pelabuhan-pelabuhan yang tak akan ada cinta di sana. Ketiadaan cinta, akhirnya membutakan segala. Sang lelaki, mesti kehilangan cinta satu-satunya. Anaknya. Ketiadaan sesiapa pada sisinya menghadirkan kerinduan yang tak berbatas luasnya. Sampai pada ketika gambar anak dan keluarganya menjadi obat dari rindu yang menganga. Bersama tulisan yang mengundangnya temui mereka. Namun, yang ada dalam kepala, "Adakah maafku akan diterima? Haruskah begini sampai berakhirnya masa?" Sang ayah, mengingat lagi bagaimana ia goreskan luka yang menganga. Masa lalu merupakan tinta yang menggoreskan masa depan. Sebagaimana pelabuhan cinta yang dicampakkan, akhirnya menjadi cinta yang disia-siakan. Sampai akhirnya penyesalan itu menghadirkan pemakluman untuk memberikan kebahagiaan di masa depan. Ada banyak hal-hal yang dinilai pantas dilakukan demi kebahagiaan. Apakah itu dibenarkan? Cerita ini seolah memberikan peringatan kepada kita perihal kehati-hatian. Pada segala hal. Fenomena masyarakat sekarang, membuat kita harus mencari tahu banyak hal dari mana semua berasal. Adakah memang dibolehkan? Yang menarik dari cerita ini adalah saya membacanya setelah tulisan saya sebelumnya mendapat perhatian dari keluarga penulis. Saya menemukan kerinduan terhadap sang empunya cerita pada akun mbak @rikanavis yang mana saya hanya bisa mengatakan, "Mbak, andai beliau dapat menyampaikan bagaimana kerinduan yang saat ini beliau rasakan kepada mbak dan keluarga, mungkin sebagian isi cerita ini dapat menggambarkan bagaimana rasa rindu beliau yang tak bisa tersampaikan." Gaya menulis yang luar biasa. Saya juga menemukan bagaimana alm. Bapak saya akhirnya tergambarkan rasa rindunya. Terimakasih. ©@pinterest #pengenceritaaja  #aanavis  #robohnyasuraukami  #gramedia  #Datangny 
Interpretasi cerpen "Topi Helm" karangan AA Navis.

Dari cerita ini akhirnya saya belajar. Bahwa kita sering kali menjadi gila kuasa. Padahal, belum tentu kita milikinya. Bahkan bisa jadi itu semua hanyalah titipan semata.

Kadang kala manusia sering kali diuji. Tapi seberat apa pun ujian penderitaan, kita kerap kali mampu hadapi cobaan. Namun tidak dengan kemegahan. Kita abai dan akhirnya berlebih-lebihan. Kita kalah oleh godaan.

Kemegahan yang datang pada kita, begitu enggan untuk dilepaskan. Kita, akhirnya dipenuhi ketakutan akan kehilangan. Kepala kita dipenuhi oleh kata-kata bahwa mereka iri dengan kita. Itu saja. Tak ada lagi penilaian lain dari kita.

Sesuatu yang paling gila dari itu semua adalah ketika kita akhirnya rela melakukan apa saja demi menjaga kemegahan tetap milik kita. Kerelaan tersebut lah yang akhirnya menceburkan diri pada ketiadaan. Kita akhirnya kehilangan segala. Kebebasan salah satu yang utama.
©@pinterest

#pengenceritaaja #goodreads #aanavis #robohnyasuraukami #gramedia #sajakliar #kumpulanpuisi
Interpretasi cerpen "Topi Helm" karangan AA Navis. Dari cerita ini akhirnya saya belajar. Bahwa kita sering kali menjadi gila kuasa. Padahal, belum tentu kita milikinya. Bahkan bisa jadi itu semua hanyalah titipan semata. Kadang kala manusia sering kali diuji. Tapi seberat apa pun ujian penderitaan, kita kerap kali mampu hadapi cobaan. Namun tidak dengan kemegahan. Kita abai dan akhirnya berlebih-lebihan. Kita kalah oleh godaan. Kemegahan yang datang pada kita, begitu enggan untuk dilepaskan. Kita, akhirnya dipenuhi ketakutan akan kehilangan. Kepala kita dipenuhi oleh kata-kata bahwa mereka iri dengan kita. Itu saja. Tak ada lagi penilaian lain dari kita. Sesuatu yang paling gila dari itu semua adalah ketika kita akhirnya rela melakukan apa saja demi menjaga kemegahan tetap milik kita. Kerelaan tersebut lah yang akhirnya menceburkan diri pada ketiadaan. Kita akhirnya kehilangan segala. Kebebasan salah satu yang utama. ©@pinterest #pengenceritaaja  #goodreads  #aanavis  #robohnyasuraukami  #gramedia  #sajakliar  #kumpulanpuisi 
Interpretasi cerpen "Anak Kebanggan" karangan AA Navis.

Kisah tentang orang yang masyhur adanya di suatu kampung. Kebahagiaannya tak terkira. Ompi namanya. Keluarga, adalah apa yang paling ia banggakan. Hingga istrinya, akhirnya mesti tiada. Anaknya menjadi satu-satunya harapan kebahagiaan itu tak ada habisnya.

Sang anak berulang kali diganti namanya. Hingga Indra Budiman, mengakhiri segalanya. Ompi rela memberikan segalanya untuk Indra. Tapi, ia juga menginginkan banyak hal dari Indra.

Indra, akhirnya menjadi obsesi kesuksesan Ompi. Keinginannya dijatuhkan terus-menerus kepadanya. Indra, mesti ke Jakarta. Jauh dari ayahnya. Semua demi keinginan ayahnya mencapai bahagia.

Tanpa pandangan mata, Indra bebas melakukan apa saja. Ompi, ayahnya tetap menjatuhkan segala inginnya kepada Indra, anaknya. Keduanya sama-sama tak pernah tahu, kebenaran seperti apa yang sebenarnya menghampiri mereka. Semua hanya sebatas kata dalam surat-surat yang menyapa.

Indra membuat ayahnya bahagia dengan setiap kata-kata dalam suratnya. Ompi, senang dengan semua cerita anaknya. Disebarkannya kepada semua.

Kebaikan niat Ompi di awal, kini memudar, berganti kepada gengsi diri sendiri. Anaknya diminta segera membuatnya bahagia sedini mungkin.

Sampai suatu ketika. Tak ada lagi kata dari anaknya. Ompi hanya bisa menanti, hingga kesakitan terus menghampiri. Sampai akhirnya, Ompi mesti mati sambil mendekap telegram yang mengatakan anaknya, Indra mati. Yang tak pernah ia ketahui.

Kebohongan keduanya, saling menyakiti dan perlahan menernak kematian pada diri. ©@pinterest

#pengenceritaaja #robohnyasuraukami #aanavis #gramedia #goodreads
Interpretasi cerpen "Anak Kebanggan" karangan AA Navis. Kisah tentang orang yang masyhur adanya di suatu kampung. Kebahagiaannya tak terkira. Ompi namanya. Keluarga, adalah apa yang paling ia banggakan. Hingga istrinya, akhirnya mesti tiada. Anaknya menjadi satu-satunya harapan kebahagiaan itu tak ada habisnya. Sang anak berulang kali diganti namanya. Hingga Indra Budiman, mengakhiri segalanya. Ompi rela memberikan segalanya untuk Indra. Tapi, ia juga menginginkan banyak hal dari Indra. Indra, akhirnya menjadi obsesi kesuksesan Ompi. Keinginannya dijatuhkan terus-menerus kepadanya. Indra, mesti ke Jakarta. Jauh dari ayahnya. Semua demi keinginan ayahnya mencapai bahagia. Tanpa pandangan mata, Indra bebas melakukan apa saja. Ompi, ayahnya tetap menjatuhkan segala inginnya kepada Indra, anaknya. Keduanya sama-sama tak pernah tahu, kebenaran seperti apa yang sebenarnya menghampiri mereka. Semua hanya sebatas kata dalam surat-surat yang menyapa. Indra membuat ayahnya bahagia dengan setiap kata-kata dalam suratnya. Ompi, senang dengan semua cerita anaknya. Disebarkannya kepada semua. Kebaikan niat Ompi di awal, kini memudar, berganti kepada gengsi diri sendiri. Anaknya diminta segera membuatnya bahagia sedini mungkin. Sampai suatu ketika. Tak ada lagi kata dari anaknya. Ompi hanya bisa menanti, hingga kesakitan terus menghampiri. Sampai akhirnya, Ompi mesti mati sambil mendekap telegram yang mengatakan anaknya, Indra mati. Yang tak pernah ia ketahui. Kebohongan keduanya, saling menyakiti dan perlahan menernak kematian pada diri. ©@pinterest #pengenceritaaja  #robohnyasuraukami  #aanavis  #gramedia  #goodreads 
Interpretasi "Robohnya Surau Kami" karya AA Navis.

Cerita ini masih sangat tepat disajikan dan dibandingkan dengan keadaan saat ini. Menceritakan tentang seorang kakek yang lama tinggal di masjid yang merasa tersindir karena sebuah cerita. Tak hanya tersindir. Tapi juga sebenarnya tergugah perasaannya akan "kesalahan" yang mungkin selama ini ada di kepalanya.

Cerita tentang seorang haji di negara Indonesia, yang telah berulang kali mampir ke Baitullah. Seluruh hidupnya digunakan untuk memuja dan memuji Allah. Tak tersisa sedikit pun waktunya hingga hartanya untuk melupakan Allah. Harus ditutup dengan kedukaan. Segala usahanya, sia-sia. Tak ada surga baginya.

Cerita ini seolah menyadarkan kita. Tuhan menghadirkan dunia bagi manusia, sebagai ladang amalnya untuk ke surga. Mengingat Tuhan, tak melulu di surau dan memuji-muji Tuhan selamanya. Ketaatan untuk selalu "menyembah" menghabiskan seluruh yang kita punya hanya untuk itu saja, tak menjamin surga adalah hadiahnya. Bahkan bisa jadi, itu adalah wujud ketakutan kita singgah di neraka.

Yang mengecewakan adalah kita mengejar itu semua, untuk diri kita semata. Hingga abaikan semua. Keluarga, bahkan dunia, seolah ditiadakan. Hanya Tuhan semata. Benarkah?

Kuakui ketakutanku akan neraka. Tapi kini, yang paling kutakutkan dari semua adalah pengabaianku pada segala yang ada. Yang paling dekat pada mata. Andai begitu adanya, aku telah gagal menjadi manusia. Menjadi hamba dari Tuhan Yang Esa, Yang Maha Segala. ©@pinterest

#pengenceritaaja #robohnyasuraukami #aanavis #gramedia #sastraindonesia
Interpretasi "Robohnya Surau Kami" karya AA Navis. Cerita ini masih sangat tepat disajikan dan dibandingkan dengan keadaan saat ini. Menceritakan tentang seorang kakek yang lama tinggal di masjid yang merasa tersindir karena sebuah cerita. Tak hanya tersindir. Tapi juga sebenarnya tergugah perasaannya akan "kesalahan" yang mungkin selama ini ada di kepalanya. Cerita tentang seorang haji di negara Indonesia, yang telah berulang kali mampir ke Baitullah. Seluruh hidupnya digunakan untuk memuja dan memuji Allah. Tak tersisa sedikit pun waktunya hingga hartanya untuk melupakan Allah. Harus ditutup dengan kedukaan. Segala usahanya, sia-sia. Tak ada surga baginya. Cerita ini seolah menyadarkan kita. Tuhan menghadirkan dunia bagi manusia, sebagai ladang amalnya untuk ke surga. Mengingat Tuhan, tak melulu di surau dan memuji-muji Tuhan selamanya. Ketaatan untuk selalu "menyembah" menghabiskan seluruh yang kita punya hanya untuk itu saja, tak menjamin surga adalah hadiahnya. Bahkan bisa jadi, itu adalah wujud ketakutan kita singgah di neraka. Yang mengecewakan adalah kita mengejar itu semua, untuk diri kita semata. Hingga abaikan semua. Keluarga, bahkan dunia, seolah ditiadakan. Hanya Tuhan semata. Benarkah? Kuakui ketakutanku akan neraka. Tapi kini, yang paling kutakutkan dari semua adalah pengabaianku pada segala yang ada. Yang paling dekat pada mata. Andai begitu adanya, aku telah gagal menjadi manusia. Menjadi hamba dari Tuhan Yang Esa, Yang Maha Segala. ©@pinterest #pengenceritaaja  #robohnyasuraukami  #aanavis  #gramedia  #sastraindonesia 
#Repost @pengenceritaaja_ (@get_repost)
・・・
Kumpulan Cerpen "Robohnya Surau Kami" Karangan AA Navis.
Terbitan ke-12 Gramedia pada tahun 2012.

Buku ini berisi 10 cerita pendek. Semuanya, saya menemukan apa yang sebenarnya ada pada negeri ini. Buku ini memberikan otokritik kepada bangsa. Siapa pun itu. Kita, bisa saja. 
Perihal ibadah seorang manusia, hubungan keluarga, sosial, politik, dan masih banyak lagi. Bahwa negeri ini sudah dan masih saja rusak adanya. Butuh banyak perbaikan di sini dan sana. Membaca ini menggugah saya. Bahwa sastra adalah senjata ketika siapa pun telah dibungkam. Sastra yang akan berbicara lewat kata-katanya. 
Terimakasih teruntuk beliau, alm. AA Navis yang dengan begitu luar biasanya menghadirkan karya ini. Semoga, masih akan terus bertambah kepala yang hendak membacanya. Tidak cukup berhenti di saya. Sekian.

#pengenceritaaja #robohnyasuraukami #aanavis #goodreads #sastraindonesia #cerpen #ceritapendek
#Repost  @pengenceritaaja_ (@get_repost) ・・・ Kumpulan Cerpen "Robohnya Surau Kami" Karangan AA Navis. Terbitan ke-12 Gramedia pada tahun 2012. Buku ini berisi 10 cerita pendek. Semuanya, saya menemukan apa yang sebenarnya ada pada negeri ini. Buku ini memberikan otokritik kepada bangsa. Siapa pun itu. Kita, bisa saja. Perihal ibadah seorang manusia, hubungan keluarga, sosial, politik, dan masih banyak lagi. Bahwa negeri ini sudah dan masih saja rusak adanya. Butuh banyak perbaikan di sini dan sana. Membaca ini menggugah saya. Bahwa sastra adalah senjata ketika siapa pun telah dibungkam. Sastra yang akan berbicara lewat kata-katanya. Terimakasih teruntuk beliau, alm. AA Navis yang dengan begitu luar biasanya menghadirkan karya ini. Semoga, masih akan terus bertambah kepala yang hendak membacanya. Tidak cukup berhenti di saya. Sekian. #pengenceritaaja  #robohnyasuraukami  #aanavis  #goodreads  #sastraindonesia  #cerpen  #ceritapendek 
#Repost @pengenceritaaja_ (@get_repost)
・・・
Interpretasi cerpen "Dari Masa ke Masa" karangan AA Navis.

Sebagai bagian akhir dari kumpulan cerpen "Robohnya Surau Kami" cerpen ini laksana menutup semua isi dalam buku ini. Seolah secara menyeluruh membahas isi dari buku ini.

Membicarakan tentang kehidupan seorang anak muda dengan orang-orang tua. Siapa yang tak pernah merasakan tentang apa yang hendak dilakukan harus dipatahkan oleh kenyataan bahwa orang tua mempunya keinginan lainnya yang mau tak mau, tak bisa terbantahkan. Kita mesti mengikutinya.

Belum lagi akhirnya permusuhan dalam batin yang selesai karena itu semua. Kita juga akhirnya mau tak mau dalam hidup ini hari menjalani kehidupan yang berbeda dengan orang lainnya. Entah sebab apa pun itu. Isi kepala, misalnya. Kita seolah enggan bersahabat dengan perbedaan hingga menghasilkan permusuhan. Yang paling menyakitkan adalah ketika politik membicarakan perbedaan. Mati kita dihujam perpecahan.

Semua akan terus ada sampai sekian lama kita memiliki masa. Ketika dulu dalam kepala ada kalimat, "Mengapa harus ada ini dan itu yang kulakukan meski tak kuinginkan?" hingga akhirnya disahuti oleh kepala, "Aku akan seperti "ini" kelak. Agar tak ada lagi yang merasakan seperti yang aku rasakan." Tapi siapa sangka, waktu terus berjalan, dan telah tiba di masa yang diinginkan. Saat itu, nyatanya kehormatan begitu didambakan. Kita menginginkan seperti masa lampau. Kita memilih melakukan apa yang kita ucapkan. Melakukan "ini" dan menikmati berjalannya waktu. Tahu kah apa yang terjadi kini?

Begini lah negeri. Isi kepala dari dulu hingga kini, selalu begini. Terlalu banyak yang diingini dari kepala-kepala yang bernyanyi. Roda terus berputar. Begitu juga waktu. Kini yang bisa berlaku adalah kita memperbaiki apa yang kita lakukan di masa lalu. Kita, adalah hasil produksi waktu. Pilihan telah diambil, resiko adalah sesuatu yang mesti juga diterima. Nikmatilah. Terima kasih
©@pinterest 
#pengenceritaaja #robohnyasuraukami #aanavis #goodreads #gramedia #sastraindonesia #ceritapendek #cerpen
#Repost  @pengenceritaaja_ (@get_repost) ・・・ Interpretasi cerpen "Dari Masa ke Masa" karangan AA Navis. Sebagai bagian akhir dari kumpulan cerpen "Robohnya Surau Kami" cerpen ini laksana menutup semua isi dalam buku ini. Seolah secara menyeluruh membahas isi dari buku ini. Membicarakan tentang kehidupan seorang anak muda dengan orang-orang tua. Siapa yang tak pernah merasakan tentang apa yang hendak dilakukan harus dipatahkan oleh kenyataan bahwa orang tua mempunya keinginan lainnya yang mau tak mau, tak bisa terbantahkan. Kita mesti mengikutinya. Belum lagi akhirnya permusuhan dalam batin yang selesai karena itu semua. Kita juga akhirnya mau tak mau dalam hidup ini hari menjalani kehidupan yang berbeda dengan orang lainnya. Entah sebab apa pun itu. Isi kepala, misalnya. Kita seolah enggan bersahabat dengan perbedaan hingga menghasilkan permusuhan. Yang paling menyakitkan adalah ketika politik membicarakan perbedaan. Mati kita dihujam perpecahan. Semua akan terus ada sampai sekian lama kita memiliki masa. Ketika dulu dalam kepala ada kalimat, "Mengapa harus ada ini dan itu yang kulakukan meski tak kuinginkan?" hingga akhirnya disahuti oleh kepala, "Aku akan seperti "ini" kelak. Agar tak ada lagi yang merasakan seperti yang aku rasakan." Tapi siapa sangka, waktu terus berjalan, dan telah tiba di masa yang diinginkan. Saat itu, nyatanya kehormatan begitu didambakan. Kita menginginkan seperti masa lampau. Kita memilih melakukan apa yang kita ucapkan. Melakukan "ini" dan menikmati berjalannya waktu. Tahu kah apa yang terjadi kini? Begini lah negeri. Isi kepala dari dulu hingga kini, selalu begini. Terlalu banyak yang diingini dari kepala-kepala yang bernyanyi. Roda terus berputar. Begitu juga waktu. Kini yang bisa berlaku adalah kita memperbaiki apa yang kita lakukan di masa lalu. Kita, adalah hasil produksi waktu. Pilihan telah diambil, resiko adalah sesuatu yang mesti juga diterima. Nikmatilah. Terima kasih ©@pinterest #pengenceritaaja  #robohnyasuraukami  #aanavis  #goodreads  #gramedia  #sastraindonesia  #ceritapendek  #cerpen 
#Repost @pengenceritaaja_ (@get_repost)
・・・
Interpretasi cerpen "Penolong" karangan AA Navis.

Kesemrawutan transportasi umum kita nyatanya sudah jadi cerita lama. Bagaimana kereta api baru di rasa lebih nyaman, kita rasa banyak orang sepakat itu belum lama ini baru dapat dirasakan. Kiranya, begitulah cerita ini bermula.

Apa yang terjadi dengan transportasi umum bangsa ini, terutama kereta api. Kita semua sepertinya menyadari telah cukup banyak memakan korban jiwa yang mati karena kelalaian atau hal lainnya. Kemudian, apa yang terjadi dengan masyarakat sekitar, mungkin perlahan kita menyadari tanpa kesadaran dalam diri bahwa amat mengenaskan. Saya percaya akan muncul tanya "Kenapa?" di dalam kepala kita.

Keniatan jiwa untuk menggerakkan raganya membantu sesama, dirasa hilang di depan mata. Kita akan lebih banyak menemukan mata kamera di mana-mana dibandingkan dengan raga yang bergerak menolong sesama. Ya, kiranya begitulah negeri ini dalam banyak kepala.

Sebuah kebaikan telah menjadi barang langka. Istimewa. Tapi, juga mengecewakan. Bagaimana semua itu tidak begitu rasanya. Ketika kebaikan tak lagi dapat ditemukan. Andai pun itu ada, akan hilang bersama suara masa. Gila. Begitulah mereka menyebut kebaikan yang hadir di negeri kita.

Entahlah, saya hanya bisa membiarkan siapa saja yang membaca ini, dan cerita pendek "Penolong" karangan AA Navis dengan isi kepalanya. Apakah kata itu, bermakna sebagaimana mestinya, atau sekadar metafora yang menjadi pujian luar biasa. 
Setidaknya, dari cerpen ini saya merasa. Kebaikan adalah sesuatu yang tak terduga. Sedikit yang dapat melakukannya, dan bisa saja hilang ditelan masa. Terimakasih.
©@pinterest 
#pengenceritaaja #robohnyasuraukami #aanavis #goodreads #gramedia #sastraindonesia #ceritapendek
#Repost  @pengenceritaaja_ (@get_repost) ・・・ Interpretasi cerpen "Penolong" karangan AA Navis. Kesemrawutan transportasi umum kita nyatanya sudah jadi cerita lama. Bagaimana kereta api baru di rasa lebih nyaman, kita rasa banyak orang sepakat itu belum lama ini baru dapat dirasakan. Kiranya, begitulah cerita ini bermula. Apa yang terjadi dengan transportasi umum bangsa ini, terutama kereta api. Kita semua sepertinya menyadari telah cukup banyak memakan korban jiwa yang mati karena kelalaian atau hal lainnya. Kemudian, apa yang terjadi dengan masyarakat sekitar, mungkin perlahan kita menyadari tanpa kesadaran dalam diri bahwa amat mengenaskan. Saya percaya akan muncul tanya "Kenapa?" di dalam kepala kita. Keniatan jiwa untuk menggerakkan raganya membantu sesama, dirasa hilang di depan mata. Kita akan lebih banyak menemukan mata kamera di mana-mana dibandingkan dengan raga yang bergerak menolong sesama. Ya, kiranya begitulah negeri ini dalam banyak kepala. Sebuah kebaikan telah menjadi barang langka. Istimewa. Tapi, juga mengecewakan. Bagaimana semua itu tidak begitu rasanya. Ketika kebaikan tak lagi dapat ditemukan. Andai pun itu ada, akan hilang bersama suara masa. Gila. Begitulah mereka menyebut kebaikan yang hadir di negeri kita. Entahlah, saya hanya bisa membiarkan siapa saja yang membaca ini, dan cerita pendek "Penolong" karangan AA Navis dengan isi kepalanya. Apakah kata itu, bermakna sebagaimana mestinya, atau sekadar metafora yang menjadi pujian luar biasa. Setidaknya, dari cerpen ini saya merasa. Kebaikan adalah sesuatu yang tak terduga. Sedikit yang dapat melakukannya, dan bisa saja hilang ditelan masa. Terimakasih. ©@pinterest #pengenceritaaja  #robohnyasuraukami  #aanavis  #goodreads  #gramedia  #sastraindonesia  #ceritapendek 
#Repost @pengenceritaaja_ (@get_repost)
・・・
Interpretasi cerpen "Angin dari Gunung" karangan AA Navis.

Peperangan selalu menyisakan hal-hal menyakitkan. Begitulah kiranya saya melihat cerita ini disampaikan. Tak hanya soal badan yang akhirnya mesti kehilangan kedua tangan. Tapi juga perasaan, yang mesti ditinggal sang pujaan.

Yang lahir dari selesainya peperangan adalah kebencian yang terus-menerus memamahbiak. Mereka yang badannya kehilangan, dibenci orang banyak sebab ketaksempurnaan. Dianggap sebagai sesuatu yang tak berguna dan diabaikan begitu saja. Kata-kata penolakan menjadi hal biasa di telinga. Setelah sekian lama dipuja karena kesempurnaan tubuh dan keelokan segala. Perang menghilangkan semua.

Kebencian orang pada dirinya tak cukup, nyatanya. Ia kini membenci dirinya sendiri. Ia mengutuki keadaan. Kenapa ini harus terjadi. Ia ingin kembali, menjadi seseorang yang begitu diingini oleh siapa saja. Membiarkan orang-orang rela untuk melakukan apa saja demi dirinya. Kini semua hanya kenang belaka.

Ketika kebencian pada dirinya menyapa. Tanpa sadar ia juga menyayat hati semesta. Mereka yang mendengar sayup-sayup celotehannya, teriris hingga luka. Kebencian itu kini hinggap secara manasuka. Menular kepada siapa saja.

Adakah dengan begitu kita baik-baik saja? Atau kebaikbaikan itu perlahan hilang entah kemana? Bisa jadi, kebencian kini menjuara pada hati manusia. Kita diantaranya. ©@pinterest 
#pengenceritaaja #robohnyasuraukami #aanavis #goodreads #gramedia #sastraindonesia #cerpen
#Repost  @pengenceritaaja_ (@get_repost) ・・・ Interpretasi cerpen "Angin dari Gunung" karangan AA Navis. Peperangan selalu menyisakan hal-hal menyakitkan. Begitulah kiranya saya melihat cerita ini disampaikan. Tak hanya soal badan yang akhirnya mesti kehilangan kedua tangan. Tapi juga perasaan, yang mesti ditinggal sang pujaan. Yang lahir dari selesainya peperangan adalah kebencian yang terus-menerus memamahbiak. Mereka yang badannya kehilangan, dibenci orang banyak sebab ketaksempurnaan. Dianggap sebagai sesuatu yang tak berguna dan diabaikan begitu saja. Kata-kata penolakan menjadi hal biasa di telinga. Setelah sekian lama dipuja karena kesempurnaan tubuh dan keelokan segala. Perang menghilangkan semua. Kebencian orang pada dirinya tak cukup, nyatanya. Ia kini membenci dirinya sendiri. Ia mengutuki keadaan. Kenapa ini harus terjadi. Ia ingin kembali, menjadi seseorang yang begitu diingini oleh siapa saja. Membiarkan orang-orang rela untuk melakukan apa saja demi dirinya. Kini semua hanya kenang belaka. Ketika kebencian pada dirinya menyapa. Tanpa sadar ia juga menyayat hati semesta. Mereka yang mendengar sayup-sayup celotehannya, teriris hingga luka. Kebencian itu kini hinggap secara manasuka. Menular kepada siapa saja. Adakah dengan begitu kita baik-baik saja? Atau kebaikbaikan itu perlahan hilang entah kemana? Bisa jadi, kebencian kini menjuara pada hati manusia. Kita diantaranya. ©@pinterest #pengenceritaaja  #robohnyasuraukami  #aanavis  #goodreads  #gramedia  #sastraindonesia  #cerpen 
#Repost @pengenceritaaja_ (@get_repost)
・・・
Interpretasi cerpen "Pada Pembotakan Terakhir" karangan AA Navis.

Anak kecil punya kepolosan pola pikir. Mereka tak tahu apa-apa sampai kita menjelaskannya perihal apa. Begitulah kiranya cerita ini berkata.

Mereka punya jutaan tanya di dalam kepala yang karena kita, akhirnya tak berani mengungkapkannya. Hanya jadi basian dan tanpa jawaban.

Kejujuran adalah suatu warisan yang perlahan mereka tinggalkan. Karena ketakutan lebih menakutkan dibanding suara yang berkumandang. Diam adalah pilihan paling aman. Meski pada kenyataannya mereka tahu itu adalah sebuah kesalahan.

Anak kecil tak bisa apa-apa. Ketakbisaan itu pun mewaris kepada kita. Bukan karena semestinya. Tapi kita, memilih diam dan membiarkan saja. Bukan urusan, tak ada untung ikut campur. Cukuplah kiranya kasihan. Itu saja yang kita bisa.

Pengabaian jadi kebiasaan. Orang salah didiamkan, sebagaimana kalimat yang biasa diucapkan, "Jika salah, maka benarkan." Pada bagian mana yang salah bisa jadi benar?

Cerita ini, mengajarkan saya suatu hal. Kejujuran adalah sesuatu yang mesti diucapkan. Tak perlu disembunyikan. Jangan disimpan sendirian. Maka pada masa yang kesekian, jawaban akan ditemukan. Meski telah berulang kali purnama silih berganti. Terima kasih.
©@pinterest 
#pengenceritaaja #robohnyasuraukami #aanavis #gramedia #sastraindonesia #cerpen #goodreads
#Repost  @pengenceritaaja_ (@get_repost) ・・・ Interpretasi cerpen "Pada Pembotakan Terakhir" karangan AA Navis. Anak kecil punya kepolosan pola pikir. Mereka tak tahu apa-apa sampai kita menjelaskannya perihal apa. Begitulah kiranya cerita ini berkata. Mereka punya jutaan tanya di dalam kepala yang karena kita, akhirnya tak berani mengungkapkannya. Hanya jadi basian dan tanpa jawaban. Kejujuran adalah suatu warisan yang perlahan mereka tinggalkan. Karena ketakutan lebih menakutkan dibanding suara yang berkumandang. Diam adalah pilihan paling aman. Meski pada kenyataannya mereka tahu itu adalah sebuah kesalahan. Anak kecil tak bisa apa-apa. Ketakbisaan itu pun mewaris kepada kita. Bukan karena semestinya. Tapi kita, memilih diam dan membiarkan saja. Bukan urusan, tak ada untung ikut campur. Cukuplah kiranya kasihan. Itu saja yang kita bisa. Pengabaian jadi kebiasaan. Orang salah didiamkan, sebagaimana kalimat yang biasa diucapkan, "Jika salah, maka benarkan." Pada bagian mana yang salah bisa jadi benar? Cerita ini, mengajarkan saya suatu hal. Kejujuran adalah sesuatu yang mesti diucapkan. Tak perlu disembunyikan. Jangan disimpan sendirian. Maka pada masa yang kesekian, jawaban akan ditemukan. Meski telah berulang kali purnama silih berganti. Terima kasih. ©@pinterest #pengenceritaaja  #robohnyasuraukami  #aanavis  #gramedia  #sastraindonesia  #cerpen  #goodreads 
#Repost @pengenceritaaja_ (@get_repost)
・・・
Interpretasi cerpen "Datangnya dan Perginya" karangan AA Navis.

Cerita ini menggambarkan kisah tentang seorang lelaki yang juga menjadi seorang ayah. Lelaki yang memiliki cinta yang mesti hilang. Kehilangan cinta membawanya kepada pelabuhan cinta lainnya. Hanya berlabuh sebab tak pernah memenuhi inginnya. Cintanya masih terasa lama. Hingga pada akhirnya sang lelaki melabuhkan diri pada pelabuhan-pelabuhan yang tak akan ada cinta di sana. Ketiadaan cinta, akhirnya membutakan segala. Sang lelaki, mesti kehilangan cinta satu-satunya. Anaknya.

Ketiadaan sesiapa pada sisinya menghadirkan kerinduan yang tak berbatas luasnya. Sampai pada ketika gambar anak dan keluarganya menjadi obat dari rindu yang menganga. Bersama tulisan yang mengundangnya temui mereka. Namun, yang ada dalam kepala, "Adakah maafku akan diterima? Haruskah begini sampai berakhirnya masa?" Sang ayah, mengingat lagi bagaimana ia goreskan luka yang menganga.

Masa lalu merupakan tinta yang menggoreskan masa depan. Sebagaimana pelabuhan cinta yang dicampakkan, akhirnya menjadi cinta yang disia-siakan. Sampai akhirnya penyesalan itu menghadirkan pemakluman untuk memberikan kebahagiaan di masa depan. Ada banyak hal-hal yang dinilai pantas dilakukan demi kebahagiaan. Apakah itu dibenarkan?

Cerita ini seolah memberikan peringatan kepada kita perihal kehati-hatian. Pada segala hal. Fenomena masyarakat sekarang, membuat kita harus mencari tahu banyak hal dari mana semua berasal. Adakah memang dibolehkan?

Yang menarik dari cerita ini adalah saya membacanya setelah tulisan saya sebelumnya mendapat perhatian dari keluarga penulis. Saya menemukan kerinduan terhadap sang empunya cerita pada akun mbak @rikanavis yang mana saya hanya bisa mengatakan, "Mbak, andai beliau dapat menyampaikan bagaimana kerinduan yang saat ini beliau rasakan kepada mbak dan keluarga, mungkin sebagian isi cerita ini dapat menggambarkan bagaimana rasa rindu beliau yang tak bisa tersampaikan." Gaya menulis yang luar biasa. Saya juga menemukan bagaimana alm. Bapak saya akhirnya tergambarkan rasa rindunya. Terimakasih.
©@pinterest 
#pengenceritaaja #aanavis #robohnyasuraukami #gramedia #Datangny
#Repost  @pengenceritaaja_ (@get_repost) ・・・ Interpretasi cerpen "Datangnya dan Perginya" karangan AA Navis. Cerita ini menggambarkan kisah tentang seorang lelaki yang juga menjadi seorang ayah. Lelaki yang memiliki cinta yang mesti hilang. Kehilangan cinta membawanya kepada pelabuhan cinta lainnya. Hanya berlabuh sebab tak pernah memenuhi inginnya. Cintanya masih terasa lama. Hingga pada akhirnya sang lelaki melabuhkan diri pada pelabuhan-pelabuhan yang tak akan ada cinta di sana. Ketiadaan cinta, akhirnya membutakan segala. Sang lelaki, mesti kehilangan cinta satu-satunya. Anaknya. Ketiadaan sesiapa pada sisinya menghadirkan kerinduan yang tak berbatas luasnya. Sampai pada ketika gambar anak dan keluarganya menjadi obat dari rindu yang menganga. Bersama tulisan yang mengundangnya temui mereka. Namun, yang ada dalam kepala, "Adakah maafku akan diterima? Haruskah begini sampai berakhirnya masa?" Sang ayah, mengingat lagi bagaimana ia goreskan luka yang menganga. Masa lalu merupakan tinta yang menggoreskan masa depan. Sebagaimana pelabuhan cinta yang dicampakkan, akhirnya menjadi cinta yang disia-siakan. Sampai akhirnya penyesalan itu menghadirkan pemakluman untuk memberikan kebahagiaan di masa depan. Ada banyak hal-hal yang dinilai pantas dilakukan demi kebahagiaan. Apakah itu dibenarkan? Cerita ini seolah memberikan peringatan kepada kita perihal kehati-hatian. Pada segala hal. Fenomena masyarakat sekarang, membuat kita harus mencari tahu banyak hal dari mana semua berasal. Adakah memang dibolehkan? Yang menarik dari cerita ini adalah saya membacanya setelah tulisan saya sebelumnya mendapat perhatian dari keluarga penulis. Saya menemukan kerinduan terhadap sang empunya cerita pada akun mbak @rikanavis yang mana saya hanya bisa mengatakan, "Mbak, andai beliau dapat menyampaikan bagaimana kerinduan yang saat ini beliau rasakan kepada mbak dan keluarga, mungkin sebagian isi cerita ini dapat menggambarkan bagaimana rasa rindu beliau yang tak bisa tersampaikan." Gaya menulis yang luar biasa. Saya juga menemukan bagaimana alm. Bapak saya akhirnya tergambarkan rasa rindunya. Terimakasih. ©@pinterest #pengenceritaaja  #aanavis  #robohnyasuraukami  #gramedia  #Datangny 
#Repost @pengenceritaaja_ (@get_repost)
・・・
Interpretasi cerpen "Topi Helm" karangan AA Navis.

Dari cerita ini akhirnya saya belajar. Bahwa kita sering kali menjadi gila kuasa. Padahal, belum tentu kita milikinya. Bahkan bisa jadi itu semua hanyalah titipan semata.

Kadang kala manusia sering kali diuji. Tapi seberat apa pun ujian penderitaan, kita kerap kali mampu hadapi cobaan. Namun tidak dengan kemegahan. Kita abai dan akhirnya berlebih-lebihan. Kita kalah oleh godaan.

Kemegahan yang datang pada kita, begitu enggan untuk dilepaskan. Kita, akhirnya dipenuhi ketakutan akan kehilangan. Kepala kita dipenuhi oleh kata-kata bahwa mereka iri dengan kita. Itu saja. Tak ada lagi penilaian lain dari kita.

Sesuatu yang paling gila dari itu semua adalah ketika kita akhirnya rela melakukan apa saja demi menjaga kemegahan tetap milik kita. Kerelaan tersebut lah yang akhirnya menceburkan diri pada ketiadaan. Kita akhirnya kehilangan segala. Kebebasan salah satu yang utama.
©@pinterest

#pengenceritaaja #goodreads #aanavis #robohnyasuraukami #gramedia #sajakliar #kumpulanpuisi
#Repost  @pengenceritaaja_ (@get_repost) ・・・ Interpretasi cerpen "Topi Helm" karangan AA Navis. Dari cerita ini akhirnya saya belajar. Bahwa kita sering kali menjadi gila kuasa. Padahal, belum tentu kita milikinya. Bahkan bisa jadi itu semua hanyalah titipan semata. Kadang kala manusia sering kali diuji. Tapi seberat apa pun ujian penderitaan, kita kerap kali mampu hadapi cobaan. Namun tidak dengan kemegahan. Kita abai dan akhirnya berlebih-lebihan. Kita kalah oleh godaan. Kemegahan yang datang pada kita, begitu enggan untuk dilepaskan. Kita, akhirnya dipenuhi ketakutan akan kehilangan. Kepala kita dipenuhi oleh kata-kata bahwa mereka iri dengan kita. Itu saja. Tak ada lagi penilaian lain dari kita. Sesuatu yang paling gila dari itu semua adalah ketika kita akhirnya rela melakukan apa saja demi menjaga kemegahan tetap milik kita. Kerelaan tersebut lah yang akhirnya menceburkan diri pada ketiadaan. Kita akhirnya kehilangan segala. Kebebasan salah satu yang utama. ©@pinterest #pengenceritaaja  #goodreads  #aanavis  #robohnyasuraukami  #gramedia  #sajakliar  #kumpulanpuisi 
#Repost @pengenceritaaja_ (@get_repost)
・・・
Interpretasi cerpen "Anak Kebanggan" karangan AA Navis.

Kisah tentang orang yang masyhur adanya di suatu kampung. Kebahagiaannya tak terkira. Ompi namanya. Keluarga, adalah apa yang paling ia banggakan. Hingga istrinya, akhirnya mesti tiada. Anaknya menjadi satu-satunya harapan kebahagiaan itu tak ada habisnya.

Sang anak berulang kali diganti namanya. Hingga Indra Budiman, mengakhiri segalanya. Ompi rela memberikan segalanya untuk Indra. Tapi, ia juga menginginkan banyak hal dari Indra.

Indra, akhirnya menjadi obsesi kesuksesan Ompi. Keinginannya dijatuhkan terus-menerus kepadanya. Indra, mesti ke Jakarta. Jauh dari ayahnya. Semua demi keinginan ayahnya mencapai bahagia.

Tanpa pandangan mata, Indra bebas melakukan apa saja. Ompi, ayahnya tetap menjatuhkan segala inginnya kepada Indra, anaknya. Keduanya sama-sama tak pernah tahu, kebenaran seperti apa yang sebenarnya menghampiri mereka. Semua hanya sebatas kata dalam surat-surat yang menyapa.

Indra membuat ayahnya bahagia dengan setiap kata-kata dalam suratnya. Ompi, senang dengan semua cerita anaknya. Disebarkannya kepada semua.

Kebaikan niat Ompi di awal, kini memudar, berganti kepada gengsi diri sendiri. Anaknya diminta segera membuatnya bahagia sedini mungkin.

Sampai suatu ketika. Tak ada lagi kata dari anaknya. Ompi hanya bisa menanti, hingga kesakitan terus menghampiri. Sampai akhirnya, Ompi mesti mati sambil mendekap telegram yang mengatakan anaknya, Indra mati. Yang tak pernah ia ketahui.

Kebohongan keduanya, saling menyakiti dan perlahan menernak kematian pada diri. ©@pinterest

#pengenceritaaja #robohnyasuraukami #aanavis #gramedia #goodreads
#Repost  @pengenceritaaja_ (@get_repost) ・・・ Interpretasi cerpen "Anak Kebanggan" karangan AA Navis. Kisah tentang orang yang masyhur adanya di suatu kampung. Kebahagiaannya tak terkira. Ompi namanya. Keluarga, adalah apa yang paling ia banggakan. Hingga istrinya, akhirnya mesti tiada. Anaknya menjadi satu-satunya harapan kebahagiaan itu tak ada habisnya. Sang anak berulang kali diganti namanya. Hingga Indra Budiman, mengakhiri segalanya. Ompi rela memberikan segalanya untuk Indra. Tapi, ia juga menginginkan banyak hal dari Indra. Indra, akhirnya menjadi obsesi kesuksesan Ompi. Keinginannya dijatuhkan terus-menerus kepadanya. Indra, mesti ke Jakarta. Jauh dari ayahnya. Semua demi keinginan ayahnya mencapai bahagia. Tanpa pandangan mata, Indra bebas melakukan apa saja. Ompi, ayahnya tetap menjatuhkan segala inginnya kepada Indra, anaknya. Keduanya sama-sama tak pernah tahu, kebenaran seperti apa yang sebenarnya menghampiri mereka. Semua hanya sebatas kata dalam surat-surat yang menyapa. Indra membuat ayahnya bahagia dengan setiap kata-kata dalam suratnya. Ompi, senang dengan semua cerita anaknya. Disebarkannya kepada semua. Kebaikan niat Ompi di awal, kini memudar, berganti kepada gengsi diri sendiri. Anaknya diminta segera membuatnya bahagia sedini mungkin. Sampai suatu ketika. Tak ada lagi kata dari anaknya. Ompi hanya bisa menanti, hingga kesakitan terus menghampiri. Sampai akhirnya, Ompi mesti mati sambil mendekap telegram yang mengatakan anaknya, Indra mati. Yang tak pernah ia ketahui. Kebohongan keduanya, saling menyakiti dan perlahan menernak kematian pada diri. ©@pinterest #pengenceritaaja  #robohnyasuraukami  #aanavis  #gramedia  #goodreads 
#Repost @pengenceritaaja_ (@get_repost)
・・・
Interpretasi "Robohnya Surau Kami" karya AA Navis.

Cerita ini masih sangat tepat disajikan dan dibandingkan dengan keadaan saat ini. Menceritakan tentang seorang kakek yang lama tinggal di masjid yang merasa tersindir karena sebuah cerita. Tak hanya tersindir. Tapi juga sebenarnya tergugah perasaannya akan "kesalahan" yang mungkin selama ini ada di kepalanya.

Cerita tentang seorang haji di negara Indonesia, yang telah berulang kali mampir ke Baitullah. Seluruh hidupnya digunakan untuk memuja dan memuji Allah. Tak tersisa sedikit pun waktunya hingga hartanya untuk melupakan Allah. Harus ditutup dengan kedukaan. Segala usahanya, sia-sia. Tak ada surga baginya.

Cerita ini seolah menyadarkan kita. Tuhan menghadirkan dunia bagi manusia, sebagai ladang amalnya untuk ke surga. Mengingat Tuhan, tak melulu di surau dan memuji-muji Tuhan selamanya. Ketaatan untuk selalu "menyembah" menghabiskan seluruh yang kita punya hanya untuk itu saja, tak menjamin surga adalah hadiahnya. Bahkan bisa jadi, itu adalah wujud ketakutan kita singgah di neraka.

Yang mengecewakan adalah kita mengejar itu semua, untuk diri kita semata. Hingga abaikan semua. Keluarga, bahkan dunia, seolah ditiadakan. Hanya Tuhan semata. Benarkah?

Kuakui ketakutanku akan neraka. Tapi kini, yang paling kutakutkan dari semua adalah pengabaianku pada segala yang ada. Yang paling dekat pada mata. Andai begitu adanya, aku telah gagal menjadi manusia. Menjadi hamba dari Tuhan Yang Esa, Yang Maha Segala. ©@pinterest

#pengenceritaaja #robohnyasuraukami #aanavis #gramedia #sastraindonesia
#Repost  @pengenceritaaja_ (@get_repost) ・・・ Interpretasi "Robohnya Surau Kami" karya AA Navis. Cerita ini masih sangat tepat disajikan dan dibandingkan dengan keadaan saat ini. Menceritakan tentang seorang kakek yang lama tinggal di masjid yang merasa tersindir karena sebuah cerita. Tak hanya tersindir. Tapi juga sebenarnya tergugah perasaannya akan "kesalahan" yang mungkin selama ini ada di kepalanya. Cerita tentang seorang haji di negara Indonesia, yang telah berulang kali mampir ke Baitullah. Seluruh hidupnya digunakan untuk memuja dan memuji Allah. Tak tersisa sedikit pun waktunya hingga hartanya untuk melupakan Allah. Harus ditutup dengan kedukaan. Segala usahanya, sia-sia. Tak ada surga baginya. Cerita ini seolah menyadarkan kita. Tuhan menghadirkan dunia bagi manusia, sebagai ladang amalnya untuk ke surga. Mengingat Tuhan, tak melulu di surau dan memuji-muji Tuhan selamanya. Ketaatan untuk selalu "menyembah" menghabiskan seluruh yang kita punya hanya untuk itu saja, tak menjamin surga adalah hadiahnya. Bahkan bisa jadi, itu adalah wujud ketakutan kita singgah di neraka. Yang mengecewakan adalah kita mengejar itu semua, untuk diri kita semata. Hingga abaikan semua. Keluarga, bahkan dunia, seolah ditiadakan. Hanya Tuhan semata. Benarkah? Kuakui ketakutanku akan neraka. Tapi kini, yang paling kutakutkan dari semua adalah pengabaianku pada segala yang ada. Yang paling dekat pada mata. Andai begitu adanya, aku telah gagal menjadi manusia. Menjadi hamba dari Tuhan Yang Esa, Yang Maha Segala. ©@pinterest #pengenceritaaja  #robohnyasuraukami  #aanavis  #gramedia  #sastraindonesia